12 November 2023

Penghianat dalam Bingkai Pengabdian

pebelaan-online.com
Lembaga Literasi Komisariat [firda]

13/11

     Dalam suatu wadah organisasi pergerakan tentu penuh dengan dinamika yang sedikit menggelikan. Hanya karena berbeda pandangan lalu dengan mudah mengeluarkan diksi penghakiman.

     Pergerakan itu adalah wadah untuk berproses menjadi manusia yang paripurna. Banyak aspek yang harus dipenuhi, bukan hanya sebagai aktifis tetapi juga mampu menjadi akademisi berkualitas, sehingga mampu mencerminkan wajah bangsa yang cemerlang.

     Tolak ukur dalam berproses bukan hanya dilihat dari arah polik, bukan berarti politik tidak penting, namun menghargai pandangan sebagian yang lain itu jauh lebih penting. Asalkan setiap pandangan dilandasi dengan nilai2 yang sudah diajarkan dalam organisasi.

     Hanya karena memiliki jabatan potensial lalu menganggap pandangannya adalah kebenaran mutlak dan mampu melontarkan diksi penghianatan pada orang yang berpeda pandangan. 

     Kata penghianat itu sangat kejam, kami sebagai kader biasa yang berproses dengan cara biasa merasa terdeskriminasi dengan itu. Bukankah kami juga boleh berpijak pada kebenaran menurut apa yang kami pelajari???

     Kami dididik untuk mengabdi dengan sepenuh hati. Kami selalu berpijak pada norma dan moral yang selama ini kami pelajari. Lalu siapkah yang menghianati???

     Apakah kamu yang memiliki jabatan tinggi lalu menganggap paling setia pada organisasi???

     Justru kami muak dengan kesombongan2 yang kalian bangun mengatasnamakan pengabdian dalam organisasi.

     Kami juga ikut berkontribusi, walau dengan dengan cara yang berbeda. Kami selalu mendukung setiap program yang mampu meningkatkan kualitas kader. Itulah bentuk pengabdian bagi kami orang2 kecil dan terkesan dipandang rendahan.

     Mungkin kami tidak mengikuti arus politik yang kalian buat, tapi kami selalu menjunjung tinggi nilai2 luhur organisasi. Jadi hargai cara kami mengabdi, jangan dihardik dan dihakimi seolah kami lah sang penghianat. Bukankah Pandangan boleh berbeda namun memiliki tujuan yang sama???

 

fddls

13 September 2023

Hubungan Guru dan Murid, Harusnya Seperti Apa?

https%3A%2F%2Fciptacendekia.com

 Lembaga Literasi Komisariat [Firda Dwi]

Rabu 13 /09

Perlu diketahui bahwa kajian di seputar hubungan guru dan murid ini sama saja dengan membicarakan etika guru-murid perspektif hadis. Disebut demikian, karena pembicaraan ini pasti menyangkut hubungan atau interaksi bernilai positif guru-murid. Interaksi bernilai positif tentu sama saja dengan interaksi etis guru-murid. Oleh karena itu, kajian hubungan guru-murid sama artinya dengan etika guru-murid.

Di antara point penting hubungan guru-murid  sebagai berikut:

a.                        Menjadikan diri guru sebagai suri tauladan yang baik kepada murid

Keteladanan dalam pendidikan merupakan metode yang berpengaruh dan terbukti paling berhasil dalam mempersiapkan dan membentuk aspek moral, spiritual, dan etos sosial anak. Anak memandang pendidik sebagai figur terbaik, yang tindak-tanduk dan sopan-santunnya tanpa disadari hal tersebut akan ditiru. Bahkan perkataan, perbuatan dan tindak-tanduk guru akan senantiasa tertanam dalam kepribadian anak. Jika pendidik jujur, dapat dipercaya, berakhlak mulia, berani, dan menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan agama. Maka si anak akan tumbuh dengan kejujuran, terbentuk dengan akhlak mulia, berani dan menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan agama. Begitu pula sebaliknya, jika pendidik adalah seorang pembohong, khianat, durhaka, kikir, penakut, dan hina, maka si anak akan tumbuh dalam kebohongan, khianat, durhaka, kikir, penakut, dan hina.[13]

Allah SWT telah mengajarkan bahwa Rasul yang diutus untuk menyampaikan risalah samawi kepada umat manusia, adalah seorang pendidik yang mempunyai sifat-sifat luhur, baik spiritual, moral maupun intelektual. Sehingga umat manusia meneladaninya, menggunakan metodenya dalam hal kemuliaan, keutamaan dan akhlak yang terpuji. Allah mengutus Nabi Saw sebagai teladan yang baik bagi kaum muslimin sepanjang sejarah, dan bagi umat manusia di setiap saat dan tempat, sebagai pelita yang menerangi dan purnama yang memberi petunjuk.[14] Allah berfirman dalam surat al-Ahzab/33 ayat 21:

لقد كان لكم في رسول الله اسوة حسنة

Artinya: Sesumngguhnya telah ada pada( diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik.[15]

Dalam al-Ahzab/33 ayat 45-46 disebutkan sebagai berikut:

يا ايها النبي انا ارسلناك شاهدا ومبشرا ونذيرا وداعيا الى الله باذنه وسراجا منيرا

Artinya: Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dan untuk jadi penyeru kepad agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi.[16]

Allah meletakkan pada diri Nabi yang mulia suatu bentuk yang sempurna bagi metode pendidikan yang islami, agar menjadi gambaran yang hidup dan abadi bagi generasi-generasi umat selanjutnya dalam kesempurnaan akhlak dan universalitas keagungan kepribadian.[17]

Siti Aisyah pernah ditanya tentang akhlak Rasulullah, beliau berkata:[18]

حدثنا عبد الله حدثني ابي ثنا عبد الرزاق عن معمر عن قتا دة عن زرارة عن سعد بن هشام قال سالت عاءشة فقالت اخبرني عن خلق رسول الله صلى الله عليه وسلم فقالت: كان خلقه القران

Artinya:.....Akhlaknya adalah al-Qur`an.

Ungkapan Siti Aisyah tersebut tentu tidak mengherankan karena karena Allah Yang Maha Sucilah yang telah mendidiknya secara langsung dalam suasana pendidikan yang mulia. Hal demikian sebagaimana sabda beliau yang diriwayatkan Askari dan Ibnu Sam’ani sebagai berikut:

ادبني ربي فاحسن تاءديبي

Artinya: Tuhanku telah mendidikku, sehingga menjadikan baik pendidikanku.[19]

b.                        Berbicara kepada murid dengan lembut dan wajah senyum

Nabi Saw mengajarkan supaya memilih kata-kata yang santun ketika berbicara kepada siapa pun, apalagi kepada murid-murid yang mendengarkan penyampaian ilmu dari seorang guru. Suatu hal yang memalukan bila seorang guru mengucapkan kata-kata yang seronok dan kurang baik kepada murid-murid. Juga suatu kesalahan jika seorang guru menganggap bahwa dengan kata-kata yang kurang santun akan membuat ia lebih dekat kepada para murid. Tindakan yang demikian akan berakibat dilecehkannya seorang guru oleh murid. Kata-kata yang indah dan menyentuh kalbu justru akan membekas lama dalam hati murid, dan akan membimbingnya dengan efektif. Rasulullah Saw bersabda:

حدثنا هناد حدثنا عبدة عن محمد بن عمر وحدثني ابي عن جدي قال: سمعت بلال بن الحرث المزني صاحب رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: ان احدكم ليتكلم بالكلمت من رضوان الله ما يظن ان تبلغ ما بلغت فيكتب الله له بها رضوانه الى يوم يلقاه وان احدكم ليتكلم بالكلمت من سخط الله ما يظن ان تبلغ ما بلغت فيكتب الله عليه بها سخطه الى يوم يلقاه

Artinya: Sesungguhnya di antara kalian ada yang mengucapkan kata-kata (baik) yang diridhai Allah, dan tidak tahu kadar derajat kemuliaan kata-kata itu. Maka dengan kata-kata tersebut, Allah melimpahkan ridha-Nya kepada orang itu hingga hari perjumpaan nanti (Hari Kiamat). Dan sesungguhnya di antara kalian ada yang mengucapkan kata-kata (buruk) yang dimurkai Allah, dan dia tidak tahu kadar derajat kehinaan kata-kata itu. Maka dengan kata-kata tersebut Allah menetapkan murka-Nya kepada orang tersebut hingga hari perjumpaan nanti (Hari Kiamat).[20]

 

Seorang guru ketika menyampaikan ilmu dan melakukan interaksi edukatif kepada murid-muridnya hendaklah dengan raut wajah yang tulus dan senyum. Rasulullah Saw menjadi contoh sempurna tentang hal ini. Perihal senyum Rasulullah, Abu Darda` berkata:

حدثنا عبد الله حدثني ابي ثنا زكريا بن عدي انا بقية عن حبيب بن عمر الانصاري عن شيخ يكني ابا عبد الصمد قال سمعت ام الدرداء نقول: كان ابو الدرداء اذا حدث حديثا تبسم فقلت لا يقول الناس انك اي امحق فقال: ما رايت او ما سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يحدث حديثا الا تبسم

Artinya: Tidak pernah saya melihat atau mendengar Rasulullah Saw mengatakan suatu perkataan kecuali sambil tersenyum.[21]

Jabir r.a. juga mengatakan sebagai berikut:

حدثنا احمد بن منيع حدثنا معاوية بن عمر وحدثنا زاءدة عن اسماعيل بن ابي خالد عن قيس عن جرير قال: ما حجبني رسول الله صلى الله عليه و سلم منذ اسلمت ولا راني الا تبسم

Artinya: Rasulullah Saw tidak pernah terpisahkan dariku sejak aku masuk Islam, dan beliau tidak pernah melihatku kecuali sambil tersenyum.[22]

Raut wajah yang senyum menunjukkan ketulusan, dan memancarkan cahaya kebahagiaan kepada orang lain. Secara psikologis, murid-murid akan merasakan keceriaan dan kelapangan hati seorang guru ketika berinteraksi dengan mereka. Al-Quran memberi penegasan bahwa berhati lembut dan berkata santun di antara kunci kesuksesan mendidik manusia. Perkataan lembut bahkan dapat melembutkan hati yang keras. Sebagai contoh, Nabi Musa dituntun oleh Allah SWT agar menyampaikan perkataan yang lembut untuk menyampaikan pesan kebenaran kepada Fir’aun yang kejam. Allah berfirman dalam surat Taha/20 ayat 43-44:

هذهبا الى فرعون انه طغى () فقولا له قولا لينا لعله يتذكر او يخشى

Artinya: Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, karena dia benar-benar telah melampaui batas; maka bicaralah kamu berdua kepadanya (Fir’aun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut.[23]

Di samping itu, seorang guru juga tidak boleh tergesa-gesa dalam menyampaikan pesan-pesan pendidikan kepada para siswa. Karena hal ini akan membuat mereka sukar memahami dan mencerna perkataan guru. Hal ini sebagaimana hadis yang berasal dari Aisyah sebagai berikut:

حدثنا سليمان بن داود المهري أخبرنا ابن وهب أخبرني يونس عن ابن شهاب أ عروة بن الزبير حدثه أن عائشة زوج النبي صلى الله عليه و سلم قالت ألا يعجبك أبوهريرة ؟ جاء فجلس إلى جانب حجرتي يحدث عن رسول الله صلى الله عليه و سلم يسمعني ذلك وكنت أسبح ( أسبح أرادت أنها كانت تتنفل ) فقام قبل أن أقضي سبحتي ولو أدركته لرددت عليه إن رسول الله صلى الله عليه و سلم لم يكن يسرد الحديث مثل سردكم .

 

قال الشيخ الألباني : صحيح

Artinya:.…sesungguhnya Rasulullah Saw dalam berbicara tidak tergesa-gesa (hingga susah dipahami) seperti pembicaraan kalian.[24]

c.      Menunjukkan sikap lemah lembut dan kasih sayang kepada murid

Guru harus menunjukkan dirinya sebagai orang yang selalu memperhatikan dan mengupayakan kebaikan untuk para murid tanpa pamrih. Tidak membeda-bedakan mereka, meskipun latar belakang mereka sangat beragam. Kasih sayang guru tidak saja kepada murid yang patuh dan hormat, tetapi juga kepada murid yang nakal. Guru dalam konteks kasih sayang ini tidak akan pernah merasakan terhina dan rendah diri dihadapan guru.

d.                        Sikap memuliakan, menghormati dan tawadhu’ kepada guru

Sebagai murid, maka guru harus diperlakukan lebih dari orang pada umumnya. Hal ini karena para guru sesungguhnya pewaris para Nabi. Para guru yang mengajarkan kebaikan kepada manuusia dido’akan oleh Allah dan para penghuni langit dan bumi. Para guru mewariskan kepada para muridnya ilmu, yang membuat murid mencapai pribadi utama. Murid --- baik laki-laki maupun perempuan --- wajib memandang sang guru dengan pandangan penuh hormat, memuliakan, dan tawadhutawadhu.

Jadi, Hubungan guru dan murid adalah pola hubungan yang humanis-teosentris atau sosio-spiritual. Dikatakan demikian karena hubungan ini terbentuk didasarkan atas relasi seorang yang melakukan misi pendewasaan (pendidik) terhadap mereka yang menjadi objek pendewasaan (siterdidik), dalam mana relasi ini berlangsung dalam konteks kesadaran dan tanggung jawab ilahiyah dan kenabian seorang pendidik.

Seorang pendidik menurut hadis-hadis Nabi SAW adalah pelanjut misi kerasulan (pewaris Nabi). Sebagaimana Nabi adalah pemberi peringatan dan penyampai kabar gembira, maka para guru sesungguhnya pewaris Nabi untuk melanjutkan misi pemberi peringatan dan penyampai kabar gembira kepada para murid. Dalam tugas mendidik ini, maka pendidik akan berjuang dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan, dan ia rela mengorbankan apa saja untuk tugas suci yang mulia itu, persis sebagaimana para Nabi dan sahabat telah melakukannya.

Seorang guru akan memperlakukan muridnya dalam cinta dan kasih sayang seperti orang tua terhadap anaknya, dan murid memandang gurunya bagaikan orang tua (bapak-ibu) baginya. Wallahu a’lam.


Oleh : Muna Nuroman

11 September 2023

Mati Syahid Karena Cinta

https://www.google.com/url?sa=i&url=httpFkumparan.com
 

Lembaga Literasi Komisariat [Firda Dwi]

Selasa, 12/09


Cinta merupakan rasa yang dimiliki oleh setiap manusia,sejatinya kita terlahir di dunia ini atas dasar percintaan dua insan lawan jenis. Dalam perspektif islam pun tidak ada larangan terhadap cinta itu sendiri,namun fenomena akhir zaman ini banyak penyalahgunaan makna cinta tersebut,sehingga banyak diantara kalangan pemuda mengimplementasi makna cinta menjadi sebuah tindakan yang kurang terpuji yaitu pacaran. Islam mengatur cinta agar terkendali dan terhindar dari yang namanya syahwat,karena syahwat itu sendiri condong terhadap perkara yang buruk. Allah berfirman dalam surah yusuf ayat 53: 

وَمَاۤ اُبَرِّئُ نَفۡسِىۡۚ اِنَّ النَّفۡسَ لَاَمَّارَةٌۢ بِالسُّوۡٓءِ اِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّىۡ ؕاِنَّ رَبِّىۡ غَفُوۡرٌ رَّحِيۡمٌ

    "Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

        Cinta:al-hubb atau al-mahabbah yaitu kecondongan hati terhadap sesuatu,dalam hal ini bisa dikatakan kecondongan hati terhadap seseorang. Syariat islam memberikan pilihan dalam permasalahan percintaan,pertama dengan melakukan pernikahan,yang kedua mencintai dalam diam atau memendam rasa terhadap seseorang yang dicintai. Mati syahid merupakan kematian yang banyak diidamkan oleh umat Islam.

        Pasalnya dalam Al-Quran maupun hadis, Allah menyediakan bagi para syuhada

     Kemuliaan, keutamaan, kedudukan yang tinggi,serta derajat yang mulia.Sedangkan pengertian syahid yaitu berasal dari bahasa arab syahid ( شهيد) pada wazan fa'iil (فعيل) asalnya dari kata syahida - yashadu - syahadah, artinya menyaksikan. Makna syahid secara bahasa adalah suatu yang hadir, pembenaran terhadap apa yang dilihatnya secara langsung.Adapun pembagian mati syahid itu ada tiga. Syahid akhirat,syahid dunia, dan syahid dunia akhirat.Dalam At-Taysiir Bi Syarh Al-Jami As-Shaghir 833 juga disebutkan:

 

من عشق ) من يتصور حل نكاحها لها شرعا لا كامرد ( فعف ثم مات مات شهيدا ) أي يكون من شهداء الاخرة لان العشق وان كان مبدؤه النظر لكنه غيرموجب له فهو فعل الله بالعبد بلا سبب ( خط عن عائشةمن عشق فكتم ) عشقه عن الناس ( وعف فمات فهو شهيد ) والعشق التفاف الحب بالمحب حتى يخالط جميع أجزائه ( خط عن ابن عباس ) واسناده كالذي قبله ضعيف

 

Barangsiapa yang jatuh cinta (pada wanita yang semestinya halal untuk ia nikahi secara syara tidak jatuh cinta pada semacam amraad (pemuda tampan tanpa kumis) lantas dia menahannya hingga ia mati, maka dia mati syahid artinya dirinya tergolong syahid di akhirat karena jatuh cinta meskipun berseminya diawali dari pandangan tapi termasuk hal yang tidak dapat ia hindari, jatuh cinta adalah karya Allah pada hambanya tanpa suatu sebab Barangsiapa yang jatuh cinta lantas dia menyimpannya (dari terlihat orang-orang) hingga ia mati, maka dia mati syahid. (At-Taisir Bi Syarh Al-Jami As-Shaghir 833)

     Hadis tersebut menjelaskan bahwasannya mati dalam membawa kecintaan terhadap seseorang pun menjadikan orang tersebut mati syahid. Meskipun hadis tersebut tergolong hadis dhaif namun bisa dijadikan fadhoilul a'mal

     Adapun hadis yang diriwayatkan imam bukhori tentang orang yang sedang dilanda kecintaan terhadap seseorang itu termasuk mati syahid.

 

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال، قَالَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ، فِي ظِلِّهِ، يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ، اْلإِمَامُ الْعَادِلُ، وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللهِ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ، وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ، اجْتَمَعَا عَلَيْهِ، وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ، وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ، وَجَمَالٍ، فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ فأَخْفَاها، حَتَّى لاَ تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا، فَفَاضَتْ عَيْنَاه. (صحيح البخاري)

Imam yang adil, pemuda yang hidupnya hanya untuk beribadah kepada Allah, seorang  yang hatinya terikat dengan masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah, keduanya berkumpul karena Allah dan berpisah karena Allah, seorang laki-laki yang diajak wanita yang kaya dan cantik  untuk berzina, maka laki-laki itu berkata : aku takut kepada Allah, seorang yang bersodaqoh dengan sembunyi-sembunyi sampai tangan kirinya tidak tahu apa yang dilakukan tangan kanannya, seorang yang berdzikir kepada Allah sendirian sehingga matanya meneteskan air mata". (HR. al Bukhari)

    Saling mencintai keduanya karena Allah,keduanya seperti hati yang satu,mereka disatukan dan dipisahkan karena allah.

    Lantas bagaimana cara mencintai seseorang agar ia termasuk dalam kategori mati syahid?

    Dalam hasyiyah syaikh ibrahim al bajuri dijelaskan bahwasannya orang yang meninggal dengan membawa kecintaan terhadap seseorang termasuk mati syahid dengan 2 syarat,{yg pertama  "العفة" yakni bisa dikatakan menjaga diri dari perbuatan hina/dosa}dan syarat{yang kedua "الكتمن" yakni merahasiakan rasa cintanya kepada siapapun termasuk orang yang ia cintai tersebut}.

    Modelan cinta seperti itulah yang diperbolehkan syariat,karena ada usaha untuk menjaga dirinya dari syahwat yang dilarang oleh agama. Mati syahid karena cinta itu tergolong syahid akhirat dan cara pemakamannya pun sama dengan orang meninggal pada umumnya,yaitu dengan cara dimandikan,dikafani,disholatkan, dan dikuburkan.

    Mati syahid karena membawa cinta bukanlah hal yang mudah,karena harus memerangi hawa nafsu nya,maka dari itu balasan orang yang mati dengan membawa kecintaan termasuk dalam kategori mati syahid.Namun, jika di tarik dalam dunia modern ini kita akan merasa kesulitan untuk tetap membawa cinta yang murni tanpa terkontaminasi hawa nafsu, karena faktor lingkungan yang kurang mendukung serta akses komunikasi yang mudah, sejatinya puncak kecintaan itu ketika dua insan yang sama-sama termotivasi untuk lebih dekat kepada Allah dengan bekal iman.

    Rasulullah SAW memberikan kaidah melalui hadis singkatnya :

عن أبي محمدٍ عبدالله بن عمرو بن العاص رضي الله عنهما قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (لا يؤمن أحدكم حتى يكون هواه تبعًا لما جئت به)

 

    Kita tidak akan bisa menyempurnakan iman jika belum mampu menundukkan hawa nafsu kepada ajaran Nabi Muhammad SAW. Kita pun tidak bisa merasakan manisnya iman jika belum mampu mengikutkan hawa nafsu kepada ajaran Nabi.

Ikhtitam

    Kita semua sudah mempunyai teladan yang patut dijadikan acuan dalam menjalani hidup agar selaras dengan syariat islam,yakni Nabi Muhammad SAW melalui hadis-hadis nya tentang bagaimana cara kita mengelola cinta agar tidak terjerumus dalam kemaksiatan.Meskipun cinta kita masih terkontaminasi oleh nafsu, dengan cara menerapkan anjuran Nabi untuk menikah itu bisa menjadikan jembatan ridho allah terhadap kita semua.Konsep cinta yang ditawarkan oleh Nabi Muhammad SAW adalah mendorong kita agar cinta karena Allah (mahabbah fillah),kunci nya adalah mengabaikan nafsu dan mengedepankan kesabaran hingga ke jenjang pernikahan.

wallahu a’lam

 


Oleh : Alvin Rahmad (Ketua Rayon Yusuf Hasyim PMII HA)