08 Juni 2017

Mencari Jarum Sulam Solidaritas; Komentar Dialektif Atas Tulisan Sahabat Adam FH

Membaca tulisan sahabat Adam yang berjudul “Merjaut Ulang Solidaritas”, saya memberi kesimpulan seperti ini. Sahabat Adam, selaku kader terbaik di masanya, yang tentunya memiliki kepedulian penuh terhadap organisasi PMII Hasyim Asy’ari, berharap agar sahabat-sahabat yang masih aktif berproses di organisasi mampu belajar dari sejarah awal kebangkitan Nasional di awal abad 20. Dia mengambil salah satu roh yang menyebabkan efektifnya suatu ruang gerak organisasi, yaitu Solidaritas.
Saya rasa solidaritas bukanlah kosa kata asing bagi warga pergerakan. Hampir di setiap agenda kegiatan, para pemimpin organisasi PMII di tingkatannya masing-masing selalu menyerukan arti penting solidaritas kepada anggotanya dengan salah satu adagium yang paling trending: Sekali bendera dikibarkan, hentikan ratapan dan tangisan, maju adalah kewajiban, mundur satu langkah adalah suatu bentuk penghianatan.
Ketika berbicara solidaritas, maka bisa dikatakan ia adalah dampak dari suatu sebab. Solidaritas tidak begitu saja muncul mak bedunduk. Solidaritas bukan pula seperti tahu bulat, yang bisa dinikmati dengan proses penggorengan dadakan. Bahkan ia tak sesederhana bersin, yang bahkan harus terlebih dahulu di awali dengan ekspresi sange muka seseorang karena harus mangap-mangap sambil memejamkan mata secara berulang-ulang.
Maka ketika sahabat Adam menjelaskan solidaritas adalah kunci dari munculnya gerakan-gerakan pencerahan awal kemerdekaan Indonesia, maka pastilah ada “sebab” yang membuat makhluk yang bernama solidaritas ini muncul dari masing-masing individu masyarakat pribumi. 
Apalagi kondisi negara (Hindia Belanda) pada saat itu berbeda jauh dari keadaan negara (Indonesia) dewasa ini. Di zaman masa kecilnya kakeknya kakek saya dan sahabat-sahabat seumurannya dulu, untuk berkomunikasi dengan pejabat Residen atau Bupati saja harus duduk lebih rendah dengan menggunakan bahasa baku dan benar. Sementara beberapa bulan yang lalu, seorang anak SD sudah bisa mengucapkan nama jenis alat kelamin (yang mirip dengan nama ikan laut itu) di depan orang nomor satu Indonesia, dengan tanpa rasa bersalah dan diucapkan sambil ‘geguyon’. Artinya, kebebasan mengekspresikan diri pada saat itu sangatlah mustahil dilakukan oleh masyarakat pribumi secara aplikatif dengan mendirikan dan menjadi anggota suatu organisasi di bawah represi pemerintahan Residen, Bupati, dan Gubernur Jenderal Hindia Belanda.
Solidaritas ibarat benang di dalam rajutan pakaian yang sobek. Pakain yang sobek adalah perumpamaan bangsa-bangsa di masa pemerintahan Hindia Belanda. Untuk merekatkan kembali sobekan pakaian (bangsa yang terpecah belah), dibutuhkanlah benang (solidaritas) agar pakaian tersebut bisa kembali tertutup rapat dan bisa menjadi pakaian yang utuh (Indonesia). 
Sementara alat atau perantara agar benang tersebut mampu menjalankan fungsinya sebagai perekat (bahasa yang dipakai sahabat Adam adalah rajut; merajut) kain yang sobek dibutuhkan yang namanya “jarum”. Tanpa adanya jarum tersebut, solidaritas yang saya umpamakan benang tadi pasti fungsinya tidak akan berguna untuk merekatkan (merajut) kain yang sobek.
Nah, seperti apakah “jarum” yang dimaksud agar solidaritas (yang diumpakan benang) bisa berfungsi sebagai perajut bangsa-bangsa yang terpecah belah, yang diibaratkan dengan benang sobek tadi?
Media sebagai jarum sulam solidaritas
Adalah seorang Tirto Adhi Soerjo, pendiri sekaligus redaktur media berkala yang diberi nama Medan Prijaji, terbit tahun 1907 dan berakhir lima tahun setelahnya. Medan Prijaji adalah satu-satunya media cetak milik pribumi yang dikelola dan diperuntukan oleh pribumi dengan salah satu rubrik yang membahas tentang ilmu politik, suatu proses pencerdasan oleh Tirto Adhi Soerjo kepada masyarakat pribumi agar muncul kesadaran berdaulat atas tanah air pertiwi. 
Empat tahun sebelumnya, tepatnya Februari 1904, terbit media berkala Soenda Berita yang juga diredakturi oleh Tirto sendiri. Hanya saja Soenda Berita sebatas memuat rubrik tentang pengetahuan yang tak berimbas pada kesadaran berpolitik, seperti pengetahuan tentang kesehatan, kedokteran, bakteorologi, hukum agama Islam, pewayangan, dan tata pengadilan pengajaran.
Tirto Adhi Soerjo juga ikut berpartisipasi dalam gerakan emansipasi wanita dengan menerbitkan Poetri Hindia, 1 Juli 1908. Beberapa nama perempuan yang ikut menjadi tim redaktur Poetri Hindia adalah Raden Ajoe Siti Habiba (istri pertama Tirto), Prinses Fatimah (istri kedua Tirto), R.A.S Tirtokoesoemo (istri Presiden Budi Oetomo), R.A Pringgowinoto (istri Patih Rembang yang kemudian diangkat menjadi Bupati Tuban), dan R.A Tirtoadiwinoto (ipar Tirto Adhi Soerjo). 
Namun sayang, Poetri Hindia harus berhenti terbit untuk selama-lamanya di tahun 1912, seiring matinya Medan Prijaji. Dengan wafatnya Poetri Hindia, tidak sekaligus mematikan ruang gerak ekspresi bagi para perempuan pribumi. Terbukti di tahun 1913, terbit Wanito Sworo di Brebes yang dipimpin oleh R.A Siti Soendari, yang memulai karirnya sebagai penulis di Poetri Hindia. Kemudian pada 1914 terbit Poetri Mardika di Betawi yang namanya diambil dari gabungan antara Poetri Hindia dengan Kaum Mardika, yang kemudian pada tahun 1915 diambil alih Budi Oetomo.
Sampai dari sini, analisis historis muncul ketika sahabat Adam menyebutkan organisasi Boedi Oetomo (1908) sebagai organisasi pertama milik pribumi yang menurutnya di prakarsai oleh kalangan pemuda pada saat itu. Bahwa terdapat peristiwa penting yang menjadi sebab (yang saya analogikan sebagai “jarum”) tumbuhnya solidaritas masyarakat pribumi untuk bersatu melalui perantara organisasi, yakni di kisaran tahun 1900-1908. 
Menurut saya, tidak akan mungkin muncul Budi Utomo (1908), Sarekat Dagang Islam (1909), dan beberapa organisasi pribumi lain setelahnya tanpa adanya “jarum” Media yang naman-namanya disebutkan di atas. Kesadaran untuk merdeka dari segala bentuk  penindasan penjajah Belanda secara perlahan muncul lewat sebaran “virus” pemikiran melalui perantara teks Soenda Berita, Medan Prijaij, Poetri Hindia, yang kesemuanya didirikan oleh Raden Mas Tirto Adhi Soerjo.
Ada istilah di dalam Ilmu Komunikasi yang bisa menjelaskan proses “mempengaruhi” dari media massa kepada audiens, yakni Bullet Theory atau yang lebih akrab disebut dengan teori jarum suntik. Menurut teori ini, terdapat stimulus respon di dalam “pesan” media massa, yang mampu membangkitkan desakan, emosi atau proses lain yang hampir tidak terkontrol oleh individu (audiens). 
Media massa yang didirikan oleh Tirto tak ubahnya seperti jarum suntik yang mampu membius masyarakat pribumi untuk sadar dan pada akhirnya mampu membangkitkan rasa memiliki (pengertian dasar Solodaritas) terhadap tanah air pertiwi yang kepemilikannya telah direbut oleh Belanda selama ratusan tahun.
Lantas, jika jarum sulam solidaritas (Media) sudah ditemukan pada masa awal kebangkitan nasional, apakah hari ini, di zaman yang segala laku gerak kehidupan bergantung penuh pada media, kita selaku warga pergerakan mampu memanfaatkannya dengan menjadi “penyulam” solidaritas yang baik dan berdampak pada terwujudnya pribadi muslim Indonesia yang bertaqwa kepada Allah SWT, berbudi luhur, cakap, dan bertanggung jawab dalam mengamalkan ilmunya, dan komitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia?
Semoga tulisan ini ada membalas...
Wallahu al muwaaffieq ilaa aqwamitthariq
Rivai Moehamed, anggota biasa yang bertempat tinggal di rivaimoehamed.wordpress.com

Referensi:
Toer, Pramodya Ananta. Sang Pemula, Hasta Mitra, 1985
www.wikipedia.id.org
www.academia.edu


07 Juni 2017

Merajut Ulang Solidaritas

Jiwa kepemimpinan hanya dimiliki oleh orang-orang yang memiliki solidaritas yang kuat.
(Ibnu Khaldun)
***

Sebuah organisasi pergerakan tatkala memiliki solidaritas yang kuat niscaya akan memiliki pengaruh dan kekuatan yang besar. Cita-cita yang begitu luhur menjadikan insan Ulul Albab yang mampu menebar kebaikan dan memberikan sumbangsih perubahan akan tercapai tatkala kader dan anggotanya memiliki solidaritas yang kuat.
Islam sebagai agama terakhir yang lahir di atas tanah tandus, gersang, dan berada di tengah-tengah masyarakat jahiliah terbukti mampu menjadi agama pemersatu bangsa, suku, dan golongan dari berbagai umat di belahan dunia. Perang antara kaum Islam-Arab dengan tentara berjumlah kurang dari 30 ribu melawan tentara Persia yang berjumlah 120 ribu, juga tentara Heraklius yang berjumlah 400 ribu, Arab mampu mengalahkan keduanya. Begitu juga perang Badar yang dikenal begitu dahsyatnya, karena umat Islam hanya berjumlah 300 orang yang dikomandani langsung oleh nabi Muhammad SAW, Ali bin Abu Thalib, dan Hamzah, melawan orang-kafir yang berjumlah 1000 orang lengkap  dengan pakaian perang dan kuda di bawah komandan abu Jahal (Amr bin Hisyam). Umat Islam dapat memenangkan pertempuran dengan gemilang dan mampu memporak-porandakan tentara musuh. Kemenangan-kemenangan ini dikarenakan kesatuan jiwa yang kokoh serta rasa solidaritas yang kuat yang menjadi benteng pertahanan yang tak mampu dirobohkan orang-orang kafir.
Kiai Hasyim beserta para kiai, santri dan umat Islam mampu mengobarkan api perjuangan untuk melakukan perlawanan terhadap tentara Belanda dan sekutu demi mempertahankan kedaulatan bangsa. Berbagai upaya pun dilakukan, mulai dari membentuk Komite Hijaz, membentuk Nahdlatul Wathan, mendirikan Nahdlatul Tujar, hingga mendirikan organisasi level nasional Nahdlatul Ulama sebagai organisasi terbesar yang mewakili kelompok Islam tradisional dalam menyatukan pandangan, gagasan, kekuatan, dan solidaritas melawan kekuatan penjajah. Perasaan yang sama atas penindasan kaum penjajah mendorong para kiai, santri, dan umat Islam  untuk bersatu membangun satu kekuatan besar yang berisikan “ruh cinta tanah air sebagian dari iman” terbukti mampu mencabut dan mengusir Belanda dan Jepang dari bumi Indonesia.
Perjuangan para pemuda yang dengan gigih dan sabar menyatukan pandangan, gagasan, dan cita-cita bersama meraih kemerdekaan adalah perjuangan yang sangat panjang. Bagaimana tidak, 1908 atas kesadaran para pelajar, didirikanlah organisasi Budi Utomo, disusul pada 1909 berdiri Serikat Dagang Islam, pada 1912 berdiri Muhammadiyah, 1913 berdiri Indische Party, 1917 berdiri Jong Sumatera, 1918 berdiri Jong Java dan Jong Ambon, 1919 berdiri Jong Minahasa dan Jong Celebs (Jakarta), dan lain-lain. 1926 berdiri Nahdlatul Ulama, 1931 berdiri Nasyiatul Aisyiyah, 1932 berdiri Pemuda Muhammadiyah dan 1934 berdiri Pemuda Ansor. Gerakan Pemuda Islam 1945, Pemuda Islam 1947, Angkatan Puteri Al-Washliyah 1947, Ikatan Putra Putri Indonesia 1945, Gamki 1948, Pemuda Demokrat 1947, Pemuda Katolik 1947, PMKRI 1947, Pelajar Islam Indonesia 1947, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) 1947, dan PMII berdiri pada 1960.
Itu adalah sejarah panjang para pemuda Indonesia yang memiliki semangat perjuangan yang tinggi. Baik perjuangan menggunakan fisik maupun perjuangan menggunakan nalar kritis, yang kesemuanya memimpikan tercapainya cita-cita kemerdekaan.
Melihat kondisi bangsa Indonesia yang sedang berada di tengah arus pertarungan transnasional, berbagai produk mulai dari produk intelektual maupun produk material menjadi modal persaingan lintas negara, PMII sebagai organisasi kaderisasi yang mengemban amanah menjadi pribadi yang berkarakter, bertanggungjawab, jujur, adil, cerdas, dan mengamalkan ilmu pengetahuan, menjadi satu harapan besar dalam memberikan sumbangsih dan kepeduliannya terhadap kemajuan suatu bangsa.
PMII dilahirkan untuk menjadi wadah dari kekuatan para pemuda, kekuatan mahasiswa Nahdliyyin. PMII didirikan sebagai media pemersatu gagasan dan langkah gerak dalam mencapai sebuah misi bersama. PMII adalah kawah candradimuka untuk membentuk manusia-manusia yang bermartabat, manusia-manusia yang berdaulat, dan manusia-manusia yang rela mengabdikan diri untuk kepentingan umat.
PMII mau tidak mau harus merajut ulang jiwa solidaritas di dalam diri kader dan anggotanya. Api perjuangan yang mulai redup perlu dikobarkan kembali. Jati diri yang mulai hilang, perlu ditanamkan lagi. Jiwa solidaritas sesama kader dan anggota yang mulai terputus perlu dirajut kembali. Tujuannya agar PMII tidak hanya sebatas sekerumunan mahasiswa yang mengabiskan waktu tanpa guna, tetapi menjadi sebuah organisasi pergerakan yang sesungguhnya. Semangat pergerakan yang tumbuh dari pribadi masing-masing kader, bukan semangat pergerakan yang hanya mengandalkan kekuatan atau kemampuan orang-orang di belakang kita.
PMII mampu untuk itu semua. Jalin solidaritas antar anggota, isi dengan kegiatan-kegiatan yang mendewasakan cara berfikir dan bertindak, serta bebaskan diri dari belenggu kebodohan dan ketergantungan. Jadilah mahasiswa yang berdaulat, mahasiswa yang produktif, dan mahasiswa yang memiliki satu kesatuan, solidaritas pergerakan.

Salam pergerakan.

28 Oktober 2016

Menyikapi Teks Sumpah Pemuda

Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah air Indonesia.
Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satu, bangsa Indonesia.
Kami poetra dan poetri Indonesia menjoenjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.
-Djakarta, 28 Oktober 1928-
Katakanlah teks sumpah pemuda ini adalah nash qath’iy bagi para pemuda yang bersifat sakral, bukan profan, seperti halnya teks pancasila bagi bangsa Indonesia, maka ada dua tawaran untuk mengkajinya. Pertama dengan maqāshid al-syarī’ah, dan kedua dengan ḥikmah al-tasyrī’.
Kacamata pertama (maqāshid al-syarī’ah) mengharuskan adanya tela’ah kritis seperti kenapa harus ada sumpah pemuda, bagiamana konteks sosial-politik yang melingkupi, kondisi masyarakat, apakah yang dilakukan oleh sebagian kelompok (thāifah) yang bersifat juz’iy (parsial) berlaku untuk semua (jamī’), dan seterusnya. Ini memungkinkan adanya konsekuensi logis bahwa teks yang ada, bisa terhapus dengan kondisi yang berbeda saat ini, karena al-ḥukmu yadūru ma’a ‘illatihi wujūdan wa ‘adaman. Teks tidak berlaku dan harus diubah, sehingga bentuknya tidak lagi sakral, melainkan profan.
Oleh karenanya, saya lebih memilih kacamata yang kedua, yakni ḥikmah al-tasyrī'. Kita hanya mengambil hikmah dari adanya teks, diambil nilainya, dan diterapkan untuk menyikapi kondisi hari ini yang sedang kita hadapi. Sehingga kesakralan teks tetap terjaga. Adapun penafsiran akan teks, bisa berbeda-beda antara satu dengan lainnya, itu sudah menjadi niscaya.
Sedikit ceroboh memang untuk mensakralkan buatan manusia menjadi sebanding dengan teks yang bersifat suci, akan tetapi akan timbul mafsadah yang lebih besar jika misalkan teks pancasila atau sumpah pemuda ini digubah. Mashlaḥah persatuan bangsa akan tergusur.
Tiga Konsekuensi Logis
Saya berharap semua mengamini teks sumpah pemuda, jika memang berlandaskan ḥikmah al-tasyrī’. Semoga tidak ada di antara pemuda kita yang acuh, cuek, dan tidak mau tau akan teks sumpah pemuda, pura-pura lupa dan tidak pernah mendengar. Walaupun memang tidak salah dari segi hukum jika berpijak pada maqāshid syarī’ah, karena sumpah itu hanya dilakukan segelintir orang (thāifah) yang tidak mengharuskan belaku untuk jamī’, keseluruhan. Apakah si A yang bersumpah lantas kemudian si B, C, dan D juga ikut menanggung sumpahnya? Bisa jadi iya, tapi secara teoritis rigid tidak bisa.
Sebagai warga Indonesia yang baik, khususnya pemuda-pemudi yang “taat,” maka berpijak pada ḥikmah al-tasyrī’ dalam memandang teks sumpah pemuda adalah pilihan yang tepat. Sakral, ambil nilainya, dan menerapkannya hari ini dalam menghadapi relita.
Kita ambil satu ayat dari teks di atas, yang pertama. Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah air Indonesia. “Bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.” Teks ini memiliki konsekuensi logis untuk menjaga dan memajukan tanah air yang mempunyai anak turun –setidaknya- tiga point. Tiga point ini adalah standar minimal dari sebuah kelompok, golongan, negara, dan bangsa untuk dikatakan maju “Madani.”
Pertama adalah kesehatan politik. Bagus dan buruknya kondisi politik negara mempengaruhi nilai negara itu sendiri. Secara detil, saya kurang kompeten dalam berbicara hal ini. Tapi jelas, penilaian akan sejarah yang dianggap maju salah satunya adalah kesehatan politik dalam menentukan kebijakan bagi negaranya.
Kedua adalah kesejahteraan untuk masyarakat atau rakyat yang dinaungi. Ini akan berbaris lurus dengan kesejahteraan ekonomi masyarakat; kelayakan pekerjaan dan pendapatannya sehingga antara satu orang akan merasa aman dengan harta bendanya, tidak merasa diincar oleh orang lainnya sebab “kekurangan” untuk bertahan hidup yang dialami lantas akan membahayakan harta bendanya.
Ketiga adalah keilmuan. Peradaban dari sebuah bangsa akan bisa dipantau dan dibaca generasi mendatang karena peninggalannya hari ini. Kita mengetahui zaman keemasan Islam pada era Rasulullah misalkan, Abbasiyah, Umayyah, peradaban Eropa, dan seterusnya karena ada banyak tokoh genius yang menuliskan keilmuan, kondisi pemerintahan dan kritikannya, dan seterusnya. Sehingga negara dan bangsa membangun kemajuannya dan bisa tereluhkan oleh generasi sekarang.
Dari ketiga poin konsekuensi logis di atas –anak keturunan redaksi “tanah air”- maka sebagai pemuda, kita akan menakar diri kita sendiri. Akan berkontribusi di bidang manakah untuk menyokong kemajuan Tanah Air: Negara dan Bangsa Indonesia? Atau malah sebaliknya kita bersifat oportunis dan acuh tidak mau tahu hal ihwal tanah air, yang penting kita menjalani hidup, bertahan hidup, dan mengantri mati tanpa sebuah perjuangan untuk warisan generasi mendatang?


-----
Yayan Musthofa, Senior Rayon Yusuf Hasyim, sekarang aktif dan menjadi pengurus di Penertiban Tebuireng

17 Mei 2016

Takmir Tidak Menggairahkan

Sebentar, jangan berpikir buruk dulu. Tidak bermaksud mengatakan bahwa takmir masjid itu harusnya cewek atau semisalnya. Takmir sebagai profesi lah yang dimaksud, tidak lagi prestisius, maka tidak menggairahkan bagi kebanyakan generasi muda sekarang. Atau mungkin karena sudah tidak ada lagi yang mendalami hal-hal kemasjidan, itupun berawal dari karena kurang menggairahkan.

Pos-pos ketakmiran pada akhirnya ditangani orang yang bukan ahlinya. Imbasnya, kontrol syariah Islam pada ranah kemasjidan akan berjalan apa adanya, seiring dengan kapasitas takmir untuk mengorganisir.

Ada contoh kasus pertanyaan teman tentang shalat Tarawih di Malang. Bahwa jamaah lelaki berdiri di belakang perempuan, bagaimana hukumnya? Konsep pengaturan jamaah shalat adalah para lelaki di depan sampai space laki-laki habis, kemudian jamaah perempuan di belakangnya menghabiskan space masjid (musalla). Bagus memang. Masalahnya, para mahasiswa dan musafir hadir terlambat, sehingga selalu shalat di belakang jamaah perempuan.

Di salah satu masjid Kwaron Jombang juga demikian. Shalat Jumat para lelaki di belakang jamaah perempuan. Bangunan masjid sudah bagus, ada ruang ruangan yang dinisbatkan masjid dan selebihnya pelataran luas kanan, kiri dan belakang. Dalam sidang jumat, ruangan masjid penuh lelaki, kanan dan sebagian belakang. Sedangkan kiri untuk jamaah perempuan. Akan tetapi jamaah yang telat, akan menutup semua ruang belakang. Maka, jamaah lelaki di belakang jamaah perempuan, karena ruang kiri tidak menggunakan satir penutup, loss.

Memang Sunan Abu Dawud pernah menukilkan kebolehan seorang perempuan menjadi Imam Shalat, tapi saya lebih tertarik dengan Imam al Ghazali yang tidak memperbolehkan inovasi dalam masalah pokok syariah. Ini bukan masalah gender, tapi tentang risalah ketuhanan yang memposisikan sesuai proporsi masing-masing. Menempatkan pada tempatnya.

Mungkin banyak lagi kasus masjid lainnya, dan dianggap wajar. Karena sudah turun temurun. Ini belum berbicara pengembangan masjid dengan pendirian perpustakaan atau lainnya.

***
Pernah suatu ketika teman saya bercerita tentang gerakan Mahasiswa di Uinsa Surabaya. Sebagian mahasiswa ingin mengambil peran pengurus masjid yang dipegang oleh organisasi lain. Tapi, ketika dilontarkan kepada seniornya, dijawab simpel olehnya, “Ngapain rebutan kepengurusan masjid? Memang setelah kalian ambil alih, kalian mau mengurus masjidnya? Biarkan saja.”

Mendengar respon senior, mereka bukan merasa tertantang menjawab gegap gempita, tapi mengamini kebodohan mereka dalam dunia kemasjidan. Menyerah sudah.

Sambil tertawa terpingkal, saya merasa sedih. Lebih sedih lagi, ternyata saya juga bagian dari mereka, selalu lari ketika diminta membantu menghidupkan urusan masjid. Dosa besar akan tertanggung untuk saya khususnya, dan generasi Islam pada umumnya jika pondasi-pondasi keislaman akan meluntur. Tidak ada lagi yang mengkhususkan diri menerjuni bidang itu.

**
Yayan Musthofa (Alumnus 2011-2012)

“Mereka” Yang Salah

Agak sedikit tersenyum geli mendengarkan kisah kelas seorang teman di warung. Ia bercerita “kegelisahan” seorang kawannya tentang pendidikan Indonesia. Teman saya langsung berkomentar pedas tanpa tedeng aling-aling, “nggak usah jauh-jauh pada pendidikan Indonesia, kita sendiri ketika ujian nggak pernah jujur.”

Komentar itu ditujukan untuk menyindir kawannya tadi. Pasalnya, sang kawan membawa kerpekan yang ditulis kecil guna menjawab soal ujian. Itu berlangsung tiap kali ujian. “Harusnya kita malu menyuruh jujur pada siswa didik kita, sedangkan kita sendiri melakukan. Malu mengkritisi kebobrokan pendidikan Indonesia karena pelakunya adalah kita sendiri. Kecuali jika memang kita tidak punya malu,” tambahnya. Kelas kuliah program guru teman saya ini ternyata mempunyai dialektikanya tersendiri.

Lebih mudah mengkritisi orang lain ketimbang diri sendiri memang. Makanya dalam kajian tasawuf Islam yang ditekankan adalah Muhasabah, introspeksi diri. Karena mengkritisi dengan jujur progress diri sendiri itu jauh lebih susah. Ada ego (al fakhr/al kibr) yang menghijab keberanian akal untuk mengkritisi diri sendiri.

Sebenarnya, jika setiap individu dari kita memulai untuk selalu memperbaiki diri sendiri. Selalu melakukan Muhasabah, maka mengkritisi perubahan sosial di sekeliling kita akan susut dengan sendirinya. Tapi itu tidak mungkin. Kalaupun iya, pasti susah dan sedikit persen. Kalaupun iya, pasti akan segera kiamat.

Keberimbangan baik dan buruk akan selalu beriringan sampai jangka waktu yang tidak ditentukan. Kalau semua sudah baik, maka sinetron akan berakhir. Pun juga sebaliknya, jika semua sudah buruk, maka akan berakhir. Potongan pemahaman yang saya tangkap dari kumpulan tulisan KH. A. Wahid Hasyim dalam karangan tersiar.

Bukan berarti kemudian cuek bebek terhadap kebobrokan lingkungan sekitar dengan alasan sudah menjadi sunnatullah, tidak. Ada peran aktor yang perlu kita bintangi, menjadi pahlawan super hero untuk berusaha menjadi yang lebih baik dan membaikkan sekitarnya.
Kuncinya, berawal dari diri kita sendiri. “Muhasabah dan continous improvement,” mengutip istilah KH. Abdul Hakim Mahfudz sebagai wakil Pengasuh Pesantren Tebuireng. Kajian tasawuf Islam pun selalu begitu, mengoreksi habis untuk perubahan diri sendiri, bukan yang di luar diri kita.

Oleh karenanya kemudian menjadi lucu jika kita terus mengoreksi sesuatu yang di luar diri kita, sedangkan pribadi sendiri belum dikatakan layak seperti kasus teman saya di atas.
Demi kebaikan bersama, mari kita mencari-cari apologi, kita sepakati saja sekarang. Kalau tidak ada kritik yang kita lontarkan pada orang lain, maka kita tidak akan dianggap ada. Perubahan sosial secara massal akan semakin lambat, jika harus menunggu diri kita menjadi baik terlebih dulu. Ayat Al Quran, “kaburo maqtan ‘indallah ma taquulu ma laa taf’alun” harus kita tafsir ulang. Sepakat?

**
Yayan Musthofa (Alumnus 2011-2012)

Siapakah Pemenang dalam Organisasi?

Pada dasarnya berorganisasi merupakan sebuah aktivitas yang sudah kita pelajari sejak kecil. Misalkan saja kita bermain kelereng. Dalam permainan itu ada aturan yang harus diikuti. Contoh lain, kita bermain remi ataupun poker, dalam permainan itu juga ada aturan yang disepakati dan diikuti. Dalam permainan tidak hanya ada satu orang, tapi beberapa orang yang semuanya sepakat dengan aturan itu, memainkan permainan dengan fair serta masing-masing pemain saling berkompetisi untuk menjadi juara atau pemenang.

Seperti halnya permainan di atas, maka menjadi sebuah kecelakaan besar jika aktivis mahasiswa masih saja bingung dalam berorganisasi, dalam bermain. Tak tahu apa yang harus dilakukan dan tak tahu mana yang harus diutamakan. Ini sebenarnya bukanlah sebuah persoalan yang besar, hanya perlu sedikit pemahaman untuk dapat menjalankan organisasi dengan baik. Namun akan menjadi persoalan besar dan menjadi kegagalan yang terus terulang apabila masalah ini tidak segera disikapi.

Dalam berorganisasi tak hanya terdiri dari satu orang, namun beberapa orang yang sama-sama bermain untuk satu tujuan, menjadi sang “Pemenang.” Dalam organisasi ada aturan yang disepakati seperti halnya permainan. Kita mengenalnya dengan istilah konstitusi atau AD-ART.

Kesadaran seorang anak dalam bermain kelereng, strategi yang ia gunakan, waktu yang tepat serta kesabaran dalam permainan menjadi modal utama untuk menjadi pemenang. Kesadaran itu pula, harus dimiliki oleh seorang organisatoris. Kesadaran akan strategi yang ia gunakan, waktu yang tepat atau managemant waktu, serta kesabaran dan ketelatenan. Karena target permainan ini adalah menjadi “Pemenang.”

Harus diakui bersama, bahwa kesadaran ini jarang kita miliki sebagai orang-orang yang berorganisasi. Kita seringkali mengabaikan bahkan melanggar aturan yang sudah kita sepakati bersama, sebagaimana aturan dalam permainan itu. Dengan sendirinya, ketika seorang pemain melanggar aturan, dia akan didiskualifikasi. Begitu juga dalam organisasi, orang yang melanggar akan didiskualifikasi oleh siapa? Oleh pemain yang lain, atau oleh Tuhan sebagai juri independen dalam organisasi ini.

Sebuah program kerja yang sangat ideal, akan menjadi program kerja yang kurang jelas arah dan tujuannya, ketika pelaksana program tidak konsisten dalam menjalankannya. Terlebih lagi, jika masing-masing pelaksana program tidak memiliki spirit secara pribadi dan personal untuk mencapai target sebagi “Pemenang.”

Organisasi hanya menjadi sebuah kumpulan orang dengan beban hidup untuk menjalankan program kerja yang tidak jelas itu selama satu periode. Ketika program terealisasi dan selesai masa kepengurusan, selesai sudah tugas dan amanah yang kita emban. Kita kembali menjalankan aktifitas yang sebagimana kita sebelum terjun dalam dunia organisasi. Dalam benak kita tidak sedikitpun terbesit keinginan untuk menjadi seorang pemenang, menjadi seorang petarung yang siap bertarung di gelanggang yang lebih besar dengan berbagai penghargaan yang akan kita miliki.

Andai saja kita sebagai orang-orang yang berorganisasi, masing-masing memiliki spirit menjadi pemenang, tentunya tidak ada lagi kebingungan dan kegelisahan tentang apa yang haruskita lakukan. Kita akan terus fokus demi mendapat sebuah tujuan yakni kemenangan. Sebuah penghargaan, sebuah kebanggaan yang tidak mungkin bisa didapat hanya dengan berdiam diri, selalu menyalahkan orang lain, termasuk menyalahkan diri sendiri.

Untuk menjadi seorang pemenang, seorang organisatoris harus muncul dalam dirinya spirit menjadi seorang “Pemenang.” Sehingga seorang organisatoris dengan sendirinya dia akan selalu berusaha mencapai sebuah kemenangan dengan selalu berusaha mencerdaskan diri, mengelola emosi, menguatkan spiritual, membangun jaringan, dan membangun mindset yang terbuka untuk menjadi orang yang dibanggakan, menjadi manusia yang mampu bertarung di setiap gelanggang kehidupan dalam mencapai visi besar insan ulil albab.

**
Adam Fadli (Ketua Komisariat Priode 2011-2012)

12 Mei 2016

Horeee... Akhirnya Wisuda

Iya, betul. Salah satu moment yang sangat digemari mahasiswa selain liburan, piknik, dan menguras habis kekayaan orangtua adalah wisuda. Walaupun kata banyak media, wisuda mencetak calon pengangguran, bodoh amat. Yang penting satu fase sudah terlampaui dan memulai fase berikutnya. Memang begitulah alur hidup sekarang.

Untungnya, Ma’had Aly Hasyim Asy’ari memberikan fadholnya. Kalau tidak, pasti sudah D.O dari dulu. Bagaimana tidak, delapan sampai sembilan tahun kuliah (enam belas semester) masih dianggap mahasiswa. Tentunya, kebijakan seperti itu berbeda dengan yang sekarang. Adek kelas saya harus mengulangi satu tahun karena tiga mata kuliah dianggap gagal, absen tidak memenuhi standar dan dilarang ikut ujian.

Sempat tidak percaya juga kalau wisuda itu seneng. Nggur ngantri naik panggung, salam-salaman dengan rektor dan beberapa dosen,kemudian photo-photo. Ditambah lagi harus iuran, ntah bagaimana nalarnya. Bukankah sudah bisa dijadikan modal usaha kecil-kecilan di tangan pengusaha?

Pernah celotehan itu saya lontarkan ke Ibu dan direspon pendek olehnya, “aku mbandani kuliah kuwi ya pingin ngrasakne seneng ndilok hasil marine, hadir ning wisudamu koyok tonggo liane.”Perasaan saya tidakpuas menerima alasan itu, wisuda terpaksa harus ditunda lagi. (Hehehe)

Di akhir tahun 2014, jawabannya muncul di Cape Town Afrika Selatan.“Hidup itu, kalau ndak bisa bermanfaat bagi orang lain, ya jangan menyusahkan orang lain. Kalau ndak bisa menyenangkan orang lain, ya jangan menyedihkan orang lain, terutama Orangtuamu.”Statement simpel ini kemudian mengingatkan pada keinginan Ibu untuk melihat anaknya wisuda. Maka saya awali wisuda diploma di Madina Institute, saya kirimkan photonya ke Ibu.

Wow, alangkah kagetnya, seketika itu langsung ditelpon dan mengucapkan selamat dibubuhi cerita banyak hal kondisi rumah. Kata para tetangga saat sudah kembali ke rumah, Ibu banyak cerita tentang wisuda anaknya dulu.

Pulang ke tanah kelahiran, saya kuatkan tekad untuk wisuda Mahad Aly yang sudah tertunda bertahun-tahun. Lobi minta belas kasihan para masyayikh Ma’had Aly. Alhamdulilah terkabulkan. Walaupun sebenarnya was-was juga. Jangan-jangan beliau mengabulkan lobi itu, karena sudah muak dengan wajah saya yang menjengkelkan, lantas dikabulkan agar tidak nongol lagi? Semoga tidak. Hehehe
Wisuda 30 Mei 2016 besok alasannya simpel. Ingin menyenangkan hati Ibu, semoga termasuk dalam golongan orang-orang yang Birrul Walidain (berbakti kepada orangtua). Bukan seperti celotehan teman saya, bahwa wisuda itu untuk menambah gelar, mendapatkan kemapanan kerja dan gaji layak, belum tentu juga, bodoh amat.
Usahamenyenangkan hati orang orangtua semoga termasuk dalam rincian Birrul Walidain. Semoga para masyayikh yang membantu usaha ini juga mendapatkan pahalanya. Amin!

Horeee... Saya akan menyenangkan hati orangtua, saya wisuda!
**
Yayan Mustofa (Alumnus 2011-2012)

Bekal Yang Dibutuhkan

Dalam tulisan sahabat Ahmadz Fadzlurrahman (http://pmii-hasyimasyari.blogspot.co.id/2016/03/ilmu-agama-dan-ilmu-umum.html). Dia ingin menghapus dikotomi Ilmu Agama dan Umum lantas mengandaikan kerjasama semua ilmu yang dileburnya menjadi satu tanpa ada pemisahan. Menarik. Gamblangnya memang semua ilmu bersumber dari Yang Maha Esa.

Bukan berati saya sepakat pada sahabat Ahmad sepenuhnya, tidak. Realitanya, sedikit kemungkinan bagi kita mempelajari akidah Hindu, Budha, Kristen atau lainnya. Atau sebaliknya, ilmu fiqh, ushul fiqh, tauhid, tajwid, tafsir dan yang dinisbatkan pada agama Islam kita paksakan pada lembaga pendidikan non-muslim dengan dalih semua ilmu itu satu. Tidak mungkin. Pasti mereka akan menyebutnya, itu kajian ilmu agama Islam, dan sebaliknya kita akan mengucapkan,“Itu ilmu agama Hindu, Budha dan Kristen.

Penisbatan ilmu pada agama dan ilmu non-agama tidak bisa dipisah dari terminologinya. Itulah mengapa Hujjatul Islam Imam al-Ghazali membaginya menjadi Ilmu Agama dan ukhro (non agama).

Tentang kerjasama antara Ilmu Agama dan Non Agama, saya sepakat dengan sahabat Ahmad. Simpel, karena Imam al-Ghazali juga menganjurkan itu. Alih-alih kurang etis jika saya harus menisbatkannya langsung pada Kanjeng Rasul seperti yang dikutip sahabat Ahmad, “Man aroda dunya Ila akhirihi”. Khawatir salah tangkap karena keterbatasan ilmu dalam bidang Hadits.

***
Dalam magnum opus Ihya’ Ulumiddin,Hujjatul Islam memang merinci detil tentang dikotomi keilmuan menjadi fardlu ain dan kifayah, muqoddimat dan lainnya. Untuk mendapatkan gambaran umumnya, saya lebih tertarik pada karyanya Ayyuhal Walad yang ditulis setelah Ihya’.

Paskah pengembaraan keilmuan, sang Imam menyimpulkan bahwa dia telah menyia-nyiakan banyak umurnya. Ia mengutip pendapat Imam as-Syibli, “Kerjakan untuk duniamu secukupnya, untuk kekekalan akhirat semampumu, pada Tuhan sekuat kemampuanmu, dan untuk neraka sekuat sabarmu menempatinya.

Bahwa kehidupan realistis adalah mengerahkan segenap tenaga untuk mencari bekal kehidupan setelah mati. Itu poinnya.

Oleh karenanya, dalam Ayyuhal Walad, Imam al-Ghazali menekankan “Amal Sholeh”, aktivitas yang didasari ilmu. Tentunya, ilmu agama yang ditekankan seiring dengan persiapan bekal kehidupan abadi. Maka dari itu, Hujjatul Islam agak memandang sinis keilmuan non-agama dan meratapi umurnya mendalami berbagai keilmuan seperti politik, filsafat, nahwu, dan lainnya.

Sekali lagi, bukan berati keilmuan umum tidak penting. Bahkan seorang Salik(pengembara ketuhanan) wajib mempunyai empat pilar. Pertama,akidah yang kokoh tanpa adanya modifikasi. Kedua, taubat dari dosa dan tidak mengulangi lagi. Ketiga, rekonsiliasi dengan musuh atau lawan sehingga tidak ada lagi makhluk Tuhan yang memusuhinya. Keempat, mempelajari ilmu agama seperlunya untuk melaksanakan perintah Allah, dan ilmu lainnya untuk menyelamatkannya.

Poin ketiga dan empat digambarkan bahwa seorang yang mendekatkan diri pada Allah (salik) tidak diperkenankan menyusahkan orang lain. Tidak hanya melulu mendalami agama lantas mengharapkan penghidupan dari orang lain. Ilmu ukhro maa takuunu bihi an-najatmengandaikan kehidupan bermartabat. Itupun, harus menyertakan aktivitas keagamaan (baca: niat) untuk menggapai ridlo Ilahi. Karena jika tidak, fahuwa roddun, tertolak untuk menjadi bekal kehidupan abadi.

***
Dari sini, bisa disimpulkan seperti yang diutarakan Dr. KH. Musta'in Syafi'i dalam khotbah Jumat, yang sudah dibukakan dalam kumpulan Khotbah Tebuireng. Bahwa Ilmu yang bermanfaat adalah yang bisa menghidupi pemiliknya, al-ilmu ya’isyu bihi. Kedua adalah ilmu yang bisa menyelamatkan dirinya di Hari Pembalasan.

Menjadi jelas sudah, bahwa ilmu minimal yang perlu kita gapai adalah ilmu agama yang akan menyelamatkan diri kita dan bekal kehidupan setelah mati. Kedua adalah ilmu yang dibutuhkan untuk mencukupi kehidupan di dunia seperti yang dikutip dari Imam as-Syibli. Apapun itu.

Terakhir yang paling pokok adalah seperti yang diungkapkan sahabat Ahmad, bahwa keilmuan harus diamalkan bukan hanya digaungkan. Al-Ghazali mengilustrasikan dengan seorang yang mempunyai aneka ragam pedang. Kemudian dihadapkan dengan singa besar di sebuah gurun sahara. Maka orang itu akan terlihat tololnya jika menyia-nyiakan pedangnya. Atau seorang yang sakit parah dengan obat-obat manjur dari dokter yang sudah dipegangnya, maka ia terlihat dungu jika tidak meminumnya.

**
Yayan Mustofa (Alumnus 2011-2012)

Kader Yang Tak Diharapkan

Entah saya harus memulai tulisan ini dari mana, sejatinya menulis merupakan salah satu cara ampuh untuk berkeluh kesah dimana semua orang sudah jengah untuk bicara panjang lebar sampai mulut berbusa. Ini sebuah intropeksi diri, meratapi dan menghayati bahwa sejatinya apa yang kita lakukan itu pasti ada salahnya tapi pada dasarnya tidak ada kesalahan yang tidak dapat dibenarkan karna semuanya itu belajar!.

Sebut saja kalian itu Kader, proses pembelajaran serta pemikiran yang waras dengan tahapan yang tak mudah untuk mendapatkan sebutan kader, saya pikir menjadi kader itu gak mudah dan gak gampang, militansi, loyalitas dan pengorbanan serta komitmen yang kuat untuk menjadi kader asli yang gak palsu, ngaku kader tapi loyalitasnya omong kosong, ngaku militan tapi kelakuan kayak anak SMA, mungkin lebih pas dengan sebutan kader abal-abal.

Kita perlu bersyukur dan bangga bahwa kita diberi jalan untuk berproses bersama, belajar bersama tanpa ada tendensi apapun hanya untuk sebuah nama. Dan pada akhirnya kita bisa menyadari dan melihat seorang kader yang berproses dalam bentuk komitmen terhadap organisasi yang mampu berjalan diatas jembatan, dan coba liat dari kejauhan banyak yang berjatuhan ditengah perjalanan dengan alasan sudah jenuh dan bosan karna perjalanannya yg kurang berkesan, atau mencoba tak melanjutkan perjalanan karna takut jatuh, atau mati ditengah jalan karna saling menjatuhkan.

Sungguh ironis perjalanan ini, mungkin kita hanya butuh jalan yang tak berlubang agar semua tak jatuh secara bersamaan. Mendedikasikan segenap jiwa dan raga, serta berkomitmen terhadap ikrar yang pernah kalian sebut, bahwa mundur satu langkah, baik itu jatuh karna gak mau bangkit, baik itu berhenti karna gak meneruskan apalagi mundur tanpa menoleh kedepan, ini merupakan sebuah bentuk dan label sebagai Penghianat Organisasi. Tak ayal kita tak bisa memungkiri banyak juga para penghianat organisasi yang masih aktif ikut bergabung dalam sebuah organisasi hanya untuk ikut nimbrung saja tanpa mempunyai rasa tanggung jawab seoalah-oalah organsasi ini hanya sebuah kumpulan dan hura-hura saja agar bisa dimanfaatkan untuk memperbanyak teman agar tidak kesepian, bukan mengembangkan organisasi.

Perlunya adanya mawas diri untuk melakukan perjalanan ini, ego yang kalian banggakan tak mampu menyeselaikan persoalan, apalagi persoalan klasik. Cukuplah kita mempunyai kader abal-abal jangan sampai kita mempunyai kader pengerusak organisasi, ini lebih bahaya dari pada kader hedonis. Dan tangan terkepal dan maju kemuka jangan sampai kepalan tanganmu mengenai kepalamu sendiri.

Tulisan ini bukan menyalahkan apalagi menghujat, ini sebuah intropeksi diri barangkali yang mebaca tulisan ini juga merasa kader abal-abal, siapa tau dia yang sadar, kan lumayan, apalagi bacanya sambil bersuara, kemudian senyum-senyum gak jelas seoalah-oalah bukan dia. Sudahlah, bukan serangan musuh yang kalian takutkan, yang harus kalian takutkan mempunyai kader palsu.

*BukanTetanggaSebelah

28 April 2016

Dari Dzikir Ke Amal Saleh

Membaca motto Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), “Dzikir, Fikir, Amal Saleh”, ternyata lebih mengagumkan dengan kaca mata Hujjatul Islam Imam al-Ghazali. Sang pencetus, sahabat Ali Maskur Musa pasti sudah jungkir balik munajat dan berpikir keras untuk melahirkannya.

Mengawali dengan dzikir dalam pribadi kita adalah tindakan yang paling tepat. Fas’alu ahladzkri inkuntum laa ta’lamun, tanyalah ahli dzikir jika kalian tidak memahami sesuatu. Perintahnya sangat jelas, terang Imam al-Ghazali. Bukan pakar keilmuan, melainkan ahli dzikir.

Pasalnya, seorang yang mengandalkan rasionalitas belaka, kerap terjerembab dengan halusinasi akal, tandasnya dalam kitab Jawahirul Qur'an karyanya.

Kita ambil contoh misalnya ketika orang itu tidur, ia bermimpi akan sesuatu. Dalam mimpinya, ia menganggap bahwa apa yang dialami dalam tidur adalah suatu kepastian. Akan tetapi ketika bangun, ia mengakui bahwa kejadian dalam mimpi adalah hal semu, hanya mimpi belaka.

Jika rasionalitas itu dibalik, bagaimana jika mimpi itu adalah sebuah kepastian hidup, dan perilaku keseharian kita adalah semu belaka? Bukan sebuah kenyataan pasti. Akal tidak bisa membuktikan keniscayaan logika tersebut. Oleh karenanya dalam al-Munqidh Minadholal, Hujjatul Islam kemudian beralih dari rasionalitas menuju pada Kasyaf, hati.

Kelemahan akal tersebut juga dibahas oleh Ibn Athoillah as-Sakandari dalam Hikamnya dengan redaksi lain. Bahwa akal hanyalah alat belaka, sedangkan sopirnya ialah hati atau nafsu. Jika dikendalikan hati, maka akal akan jernih dalam berpikir dan sebaliknya, jika disopir oleh nafsu, maka ia akan bergerak merusak.

Memang ada kelemahan tersendiri jika landasan dasarnya adalah hati. Setiap orang bisa mengaku-ngaku akan kejernihan hatinya, lantas diagungkan oleh yang lain, maka juga akan berpangruh distortif massal. Banyak menyesatkan kalangan banyak. Oleh karenanya, hati masih harus didampingi oleh garis-garis syariah. Jika ada orang yang mengaku-ngaku hatinya jernih, lantas menyeleweng dari garis syariah, maka tertolaklah argumentasinya.

Metode Kasyaf
Mengutip pengantar Lukmanul Hakiem dalam Permata Ayat-Ayat Suci dari pernyataan Imam al-Ghazali bahwa, Bersinarnya kalbu dan jiwa hanyalah muncul dari dzikir. Dzikir kepada Allah itu sendiri tidak akan didapatkan melainkan dari orang-orang takwa. Takwa adalah pintu dzikir, dan dzikir adalah pintu kasyaf. Sedang kasyaf itu sendiri merupakan pintu bagi kebahagiaan yang besar.” Maka bisa disimpulkan, titik tolak untuk menjalankan dzikir adalah takwa sebagai pintu utama menggapai kasyaf.

Sudah tidak asing bagi kita bahwa takwa adalah menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Pintu menjalankan dzikir pertama ini sudah sangat berat untuk dilalui. Oleh karenanya menuju kepada Amal Saleh hanyaakan dilalui orang-orang (baca: kader PMII) yang sudah teruji dari hati, pemikiran dan tindakan pribadinya.

Ketika kerangka kasyaf sudah dimiliki dengan susah payah, maka kerangka berpikir seseorang menjadi lurus secara logika. Ibarat sinar matahari yang dipantulkan ke bulan, dari bulan dipantulkan ke cermin, dari cermin menerangi ruangan kamar. Dari Tuhan menuju piranti nabi-nabi dan ayat-ayat-Nya, dipantulkan pada hati kita, dan menerangi pemikiran kita.

Tentunya, untuk mendapatkan keputusan tindakan yang lebih matang, kasyaf bukanlah satu-satunya piranti. Saiful Anwar memetakan karya Imam al-Ghazali dan menuangkan dalam karyanya, Filsafat Ilmu al-Ghazali. Ada piranti lain yang tidak bisa ditinggalkan untuk menggapai kebenaran; Indra, akal dan dzauq (kasyaf).

Ketiganya masih dibutuhkan antara satu dengan lainnya. Hanya saja, dari ketiga piranti-piranti yang ada, PMII memulai dari dzikir, selaras dengan al-Ghazali. Karena dari permulaan itu, pasti akan melahirkan kejernihan pemikiran tanpa ditumpangi ego nafsu yang serakah.

Amal saleh
Amal saleh adalah produk. Ia dilahirkan atau tidak, membutuhkan keberanian tersendiri. Tidak sedikit orang yang sudah lurus secara pemikiran, tapi tidak bisa mengeksekusinya menjadi nyata.

Salah satu sifat mendasar yang dianjurkan Sayyidina Ali untuk dimiliki para lelaki. Dermawan dan Jantan (berani). Untuk melahirkan janin pemikiran dari kejernihan hati yang sudah dipermatang akal, membutuhkan keberanian khusus. Berani mempertanggungjawabkan tindakan walaupun harus berbeda pendapat. Berani melahirkan (mengeksekusi) menjadi nyata dengan strategi-strategi jitu, metode jitu sehingga hasil produk kejernihan hati diteruskan ke Fikr, dan didongkrak keberanian melahirkan kualitas handal.

Semoga, produk-produk PMII dari kejernihan hati mereka, bisa terwujudkan menjadi peninggalan yang bisa dimanfaatkan orang banyak (kualitas handal). Selamat ber-RTAR dan RTK !


**

Yayan Mustofa (Bidang Pengkaderan, Masa Khidmat 2011-2012)