05 April 2015

Miskin

The Good Father - 
CORAZON Aquino memang tuan tanah besar. Tanahnya yang ditanam tebu melimpah di Provinsi Tarlac. Tapi dia maklum, penduduk yang tak memiliki tanah merupakan bom waktu yang tiap saat bisa meletus dan menumbangkan negeri. Corry tahu persis, kekayaan yang terlalu besar menumpuk pada diri di tengah kemiskinan bukanlah kesenangan, melainkan beban berat yang mendatangkan kikuk dan waswas.

Saya pernah bertamu ke rumah senator Salpada Padatun. Rumahnya kemilau berlantai marmer, dijaga oleh belasan pasukan swasta bersenjata lengkap beserta beberapa anjing herder. Seorang kawan redaktur senior majalah The Phillipines Free Press berkata bahwa tak kurang dari 315 tukang pukul bersenjata yang setiap saat bisa disewa. Tak kurang dari 80 politikus, 6 di antaranya para senator dan 37 anggota parlemen memelihara tentara swasta ini.

Di Filipina cuma dua persen penduduknya dipegang oleh tuan-tuan tanah dan 89 persennya dalam keadaan papa dan miskin tak punya kuasa apa-apa. Kekuasaan ekonomi dan politik dipegang oleh tak lebih dari keluarga tuan tanah. Menurut pengamatan ekonom Gunnar Myrdal yang terbaca dalam An Inquiry into the Poverty of Nations, demokrasi yang sehat tidak jalan di Filipina. Kelicikan dan tipu muslihat merupakan permainan politik yang diterima umum sebagai keadaan normal.

Di negeri ini tahun 1981 dan tahun 1988 terjadi di Jenggawah, Jember dan Badega kegemparan yang menyangkut ratusan ribu petani miskin. Mereka yang tadinya susah menjadi tergencet oleh ulah mereka yang ingin merebut tanahnya. Bulan Mei 1995 soal tanah itu muncul kembali lewat hubungan PT Perkebunan PTP XXVII. Petani-petani itu merasa terancam akan digusur dari tanah yang dicintainya.

Teringatlah karya Dostoevsky Si Dungu di mana tokohnya Myskin pernah berkata, “barangsiapa tidak memiliki tanah sendiri berarti dia pun tidak memiliki Tuhan”.

Kemudian berkata pula tokoh Zossmina kepada Aloysha agar membiasakan meletakkan dahi menyentuh tanah. “Ciumlah ia sehabis-habis cium, cintailah tanah itu sehabis-habis cinta karena tanah itu adalah segala-galanya”. Sedangkan tokoh Maria Lebyandhina berkata dengan bibir gemetar bahwa buat orang Rusia tanah itu adalah bagaikan “ibunda yang dipersembahkan kepada kita dari Tuhan Yang Maha Kuasa, yang mesti dipeluk sambil sembahyang menghadapNya”.

Dostevsky pastilah tak pernah ke Jember, bahkan letak Jenggawah itu pun tak tahu. Tapi sebagai pembela rakyat kecil tak punya tanah yang berulangkali diamankan oleh penguasa dan dibuang ke Siberia oleh Tsar Nicolas II, ia tahu pasti betapa lemahnya kaum tani tak bertanah itu dan betapa empuknya mereka jadi bahan perasaan kaum yang kuat dan berpunya. Dostoevsky tahu pula bahwa di samping lemahnya kaum tani tak bertanah itu, ia pun maklum pula betapa kuatnya semangat dan tekad mereka untuk melakukan perubahan dan perbaikan nasib, sekuat mata bajak membongkar tanah.

ORANG-orang yang tinggal di Desa Cipangramatan, Tanjung Jaya, Bojong, Jaya Bakti, Cikajang dan Banjarwangi sebelah selatan Garut mengeluarkan pernyataan keprihatinan bukan dengan kalimat-kalimat Dostoevsky, melainkan dengan bait-bait sajak Rendra dari cuplikan sajak-sajak orang miskinnya.
            “Jangan kamu bilang negara ini kaya, karena orang-orang miskin berkembang di kota dan di desa.”


***
Mahbub Djunaidi; Asal Usul - Kompas, 18 Juni 1995

Wajah

Wajah
JABATAN seseorang tidak ada sangkut pautnya dengan wajah dan postur. Kennedy dengan sisiran rambut yang mengingatkan orang pada pemain band juga bisa jadi presiden AS. Nikita Khruschev yang tambun dan berkepala bundar, sepintas lalu kelihatan seperti petani gandum Ukraina, juga bisa jadi perdana menteri Uni Sovyet yang brilian dan masyhur. Humornya tinggi, humor petani Rus. Bung Karno yang pancaran pandang juga bisa jadi binar sehingga sulit orang mengadu pandang, juga bisa menjadi presiden. Sebaliknya, Ho Chi Minh yang bermata sayu dan mirip seorang pensiunan kepala sekolah dasar, ternyata sanggup membabat habis pasukan Perancis di Dien Bien Phu dan pasukan AS, juga bisa jadi kepala negara Vietnam. Mao Zedong yang tinggi besar dan berwajah dingin bagaikan patung lilin, toh mampu menggerakkan revolusi besar dan menghalau pasukan Chiang Kei Shek hingga hengkang ke Taiwan.
Jawaharlal Nehru memang ganteng semampai serta senantiasa menyelipkan sekuntum mawar merah di bajunya, tapi penggantinya Lal Bahadur Shastri berperawakan kecil dan mirip seorang kasir toko kelontong, toh bisa juga jadi perdana menteri. Jamal Abdul Nasser yang raksasa, jari jemarinya saja sebesar pisang ambon, toh akhirnya digantikan oleh seorang Anwar Sadat yang agak keling diukur dari warna orang Mesir, seorang yang kalah jauh dibanding postur Jamal yang perkasa.
Atau Sihanouk. Orang yang pendek bersuara nyaring seperti lazimnya seorang makelar itu toh bisa jadi orang menentukan di Kamboja. Orang pernah tanya, kenapa sih Sihanouk ngomongnya senantiasa nyaring dan nyerocos seperti ada yang loncer? Istrinya Monica menjawab: “Kamboja itu lengang, penduduknya cuma enam juta. Karenanya Sihanouk, mesti nyaring suaranya, kalau tidak negeri akan sunyi senyap.”
Chou En Lai tergolong perdana menteri dan menteri luar negeri yang ganteng, beralis tebal dan berair muka merah jambu. Memancarkan intelegensi tinggi. Tapi, penggantinya Menteri Luar Negeri Chen Yi, orang kebalikannya, bermuka Cina kebanyakan, bahkan sepintas lalu tampak seperti seorang jagal babi karena suka angkat kaki di kursi dan hanya memakai singlet.

AMBILLAH contoh di negeri awak. Idham Chalid itu, siapa tidak kenal dia? Perawakannya tipis, tak ubahnya dengan umumnya pedagang batu permata dari Banjar. Tapi, dialah orang yang pegang rekor paling lama menduduki kursi kekuasaan politik negeri ini sejak tahun 1956, dan paling lama pula menjabat pimpinan NU. Dari wajah dan posturnya, Abdurrahman Wahid merupakan kebalikan yang mencolok. Orang yang disebut belakangan ini bertubuh gempal, ibarat jambu kelutuk yang ranum, berkaca mata tebal, bisa tidur dimana saja, toh bisa sama-sama jadi ketua NU. Idham Chalid memiliki kelincahan logika yang tinggi, dan Abdurrahman Wahid punya kebolehan humor yang mengejutkan, seakan-akan dia jambret begitu saja dari laci.
Ambillah contoh John Naro. Pria perlente yang partainya digembosi orang hingga separuh, yang tidak segan-segan tarik suara di restoran karena suaranya memang tenor, yang mencium tangan nyonya Mien Sugandhi di muka umum sebagaimana layaknya pria Perancis, toh punya keberanian luar biasa untuk mencalonkan diri jadi wakil presiden Republik yang besar ini.
Ambillah contoh Ajip Rosidi yang kini sudah menginjak umur 50 tahun. Dilihat dari potongan luarnya, lelaki asal Jatiwangi yang tak kenal sisir seumur hidupnya dan selalu membiarkan kemeja menjurai ke luar, dan kemana-mana bersandal itu, ternyata seorang yang alim dan produktif dan seorang kakek yang telaten. Jika anak muda bertemu dengannya di jalan, pasti dianggapnya seorang petani yang lagi coba-coba urbanisasi ke kota.
Atau, ambillah seniman lain Totok Sudharto Bachtiar yang sajak-sajaknya biasa dikaji anak-anak-anak sekolah menengah. Orang ini jadi hitam legam, habis terbakar mentari karena jadi pelatih tenis, tidak ada urusan dengan sajak lagi, akibat dunia sekarang tidak memerlukan penyair melainkan pemborong, sehingga para penyair jadi terlempar ke alam dongeng. Penyair yang biasa dikesankan seorang kerempeng yang kurang tidur dan kurang makan, sekarang tampil sebagai seorang kekar dan pontang-panting mengejar bola, dan peroleh bayaran darinya.

DI dunia tentara pun terjadi hal yang menarik. Jika Pangab Benny Murdani punya sosok tubuh yang seram dan kebanyakan merengut, sebaliknya Pangab Try Sutrisno yang berair muka seorang ustad dan seakan dia itu kelihatan senantiasa seperti orang baru keluar dari salon. Murdani menunjukkan seorang tentara yang keras, Try tampak bagai seorang pria yang sejuk dipandang.
Pada saat majalah Tempo berulang tahun di Hotel Sahid tahun lampau, diadakanlah diskusi yang menampilkan Benny Murdani sebagai pembicara utama dengan moderator Fikri Djufri. Macam-macamlah persoalan yang diajukan wartawan, menyangkut kebebasan pers, masalah tanggung jawabnya terhadap kestabilan, dan hal-hal semacam itu.
Tapi, ada pertanyaan aneh yang menyimpang. Pertanyaan ini datangnya dari wartawan, Aristides Kattoppo. Dengan enak dia bertanya sesudah terlebih dulu minta maaf: “Kenapa sih Benny jarang ketawa dan senantiasa cemberut?”
Benny yang menjawab dengan contoh: “Menurut kepercayaan Cina, saya ini dilahirkan dalam “tahun monyet”. Saudara-saudara tahu kan monyet itu, antara ketawa dan merengut tidak ada bedanya.” Para hadirin tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban yang jitu dan bagus itu.


***
Mahbub Djunaidi; Asal Usul - Kompas, 20 Maret 1988

Kolumnis

Kolumnis
TIAP KTP punya baris “pekerjaan” yang mesti diisi. Seorang Dirjen akan dengan mantap mengisinya karena yakin betul tiap orang mafhum belaka makhluk apakah dirjen itu. Seorang makelar pun sekarang ini tidak usah kikuk mencantumkan profesinya, karena dunia makelar pun sudah sah jadi penunjang pembangunan seperti halnya juga komisioner. Sekarang, apa yang harus diisi seorang penganggur yang banyak sekali jumlahnya di negeri ini? Demi harga diri dan demi supaya tak dicurigai, mustahil seorang penganggur mengisi apa adanya dalam KTP. Karena jenis pekerjaan mesti jelas tercantum, maka apa yang mesti ditulis oleh penganggur yang tidak punya pekerjaan?
         Biasanya mereka isi dengan perkataan “swasta” atau “wiraswasta”. Saya berani bertaruh, tidak ada penganggur yang berterus terang menulis apa adanya. Selain demi harga diri dan demi jangan dicurigai, juga mereka menghindar dari mengaku penganggur itu karena merasa kurang enak kepada pihak pemerintah, takut dianggap menyindir. Mengapa menyindir? Karena bunyi pasal 27 UUD berbunyi “ Tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan”. Jika seorang penganggur mengaku terus terang keadaannya, apa itu bukannya bisa dianggap menyindir, seakan-akan pemerintah sudah tidak mampu menyediakan pekerjaan yang layak?
         Hal serupa juga dialami oleh pengemis. Jika pemerintah berpegang teguh secara murni dan konsekwen pada bunyi pasal 34 UUD yang berbunyi “Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara” maka tidak mungkin bergelombang-gelombang pengemis masuk kota. Anehnya, ada kotamadya yang mengancam akan merazia dan menangkap pengemis. Apakah memang pantas dipersoalkan kenapa sampai melalaikan pasal 34 UUD itu hingga berdasar Pancasila ini bila orang diperbolehkan sekaya-kayanya, tapi para fakir miskin malahan diuber-uber?

          PEKERJAAN Dirjen orang tahu. Begitu juga makelar atau komisioner. Bahkan profesi dukun pun orang paham. Tapi profesi “kolumnis” masih asing dan belum banyak yang maklum. Jika saya mencantumkan perkataan “kolumnis” sebagai jenis pekerjaan, banyak orang bertanya-tanya binatang apa sih kolumnis itu? Kolumnis itu bagian pekerjaan malam apa siang? Bahkan ada yang bertanya, apa beda antara kolumnis dengan komunis? Tentu beda. Komunis itu sudah musnah sedangkan kolumnis itu masih ada, setidaknya sampai hari ini. Perkara besok akan lenyap juga, nantilah kita lihat saja.
           Apa yang ditulis kolumnis itu memang fakta? Bisa fakta dan bisa juga bukan fakta. Sebab, jika semua semua fakta mesti ditulis secara terbuka dan apa adanya, dalam tempo tiga hari dunia ini akan terbolak-balik. Bahwa koran mesti menyiarkan yang faktual, itu benar. Tapi tidak semua fakta layak disiarkan. Sebab, apa jadinya jika semua fakta disiarkan oleh koran? Apa jadinya jika korupsi mulai teri hingga kakap dibeberkan apa adanya?
       Saya punya contoh, bagaimana seorang kolumnis menulis bukan atas dasar fakta, melainkan imajinasinya yang diharapkan bisa ditarik manfaatnya oleh pembaca. Misalnya kolumnis Ajip Rosidi yang sudah bertahun-tahun bermukim di Jepang. Dalam Kompas terbitan 6 Juni 1986, ia menurunkan tulisan berjudul Sendok, garpu dan lain-lain. Tulisan itu menyebut ikhwal makanan, cara makannya, apa pakai sendok apa pakai sumpit, apakah itu makanan Jepang atau Barat.
           Sebagai seorang yang kenal baik Ajip Rosidi, saya tahu persis ia sama sekali bukan gastronom, bukan pakar makan-memakan, bahkan mirip pun tidak. Ia bukan tukang makan, melainkan tukang telan apa saja yang lewat di depan hidung. Bagaimana mungkin seorang awam makanan seperti Ajip berani menulis artikel ihwal makanan, kalau bukan semata-mata atas dorongan imajinasinya? Bagaimana mungkin seorang yang tak bisa membedakan mana kroket dan mana combro mampu menulis soal makanan? Ini sama saja anehnya dengan orang asal Indihiang yang berdiam di kaki Gunung Galunggung bicara soal taman laut dan rahasia samudera.
            Saya punya kisah pribadi yang mendukung pendapat saya. Pada tahun 1982 saya mampir di Kyoto naik kereta api, Ajip Rosidi persis menunggu di pintu gerbong. Sesudah bersalam-salaman sebagaimana layaknya, sesudah tanya ihwal masing-masing dan bertanya ihwal Tanah Air yang saat itu menjelang saat pemilu, Ajip pun berbaik hati menawarkan apa saya mau makan siang, dan makanan apa yang saya sukai.
            Saya bilang, memang saya belum makan, dan makan apa pun jadilah.Sukiyaki boleh, steak Kobe pun jadi, pokoknya asal cepat. Maka Ajip pun mengajak berjalan kaki masuk keluar lorong, ada barangkali satu jam sehingga bukan saja perut makin lapar, tapi kaki pun sudah kaku. Di dalam hati saya berpikir, kok kota semacam Kyoto yang cukup besar itu, susah betul cari restoran?
         Sesudah kaki tidak kuat lagi melangkah, tahulah saya bahwa Ajip sebetulnya tidak tahu persis, di mana letak restoran yang menjual makanan yang saya sebut itu, bahkan Ajip malahan tidak bisa baca huruf Kanji, tentu saja ia tidak bisa membedakan mana restoran mana toko potret.
           Sesudah tidak sanggup lagi meneruskan perjalanan, saya pun pasrah dan mengusulkan supaya makan makanan apa saja yang tampak oleh mata. Maka, kami pun menghampiri depot penjual hamburger, makanan yang bisa ditemui siapa saja dengan mudah, baik oleh nenek-nenek maupun orang buta.


***
Mahbub Djunaidi; Asal Usul - Kompas, 17 Juli 1988

Parlemen Pakai Karcis

Parlemen Pakai Karcis
Pada suatu waktu, penyair Pablo Neruda mengambil keputusan sederhana: bahasa sajak itu tak usah muluk, tapi lumrah saja. Orang bisa paham, itu yang penting. Begitulah sang penyair yang pipinya tembem itu menulis kumpulan sajak Nyanyi Puja untuk Kaos Kakiku atau Nyanyi Puja Buat Bawang. Dan berhubung Neruda juga merasa berkewajiban poleksosbud (politik, ekonomi, sosial, budaya), kumpulan sajaknya, Canto Genereal pun sunggguh-sungguh menyentuh persoalan sejarah dan politik Amerika Latin.

Neruda basah politik, begitulah. Presiden Allende memaklumkan hari besar Chili tatkala Neruda memperoleh hadiah Nobel di tahun 1971. Tatkala presiden Allende mati akibat kup militer, penyair Neruda teramat sedih kalbunya, dan kemudian ikut mati. Jarang ada politikus dan penyair seakrab begini. Mungkin karena kedua-duanya marxis. Kedua-duanya berpanglima “politik”. Ganjil tidak ganjil, nyatanya Pablo Neruda tidak jalan sendirian. Di belakangnya susul-menyusul pengarang yang kena pukau pikiran-pikirannya: Cortazar–Garcia Marquez, Vergas Llosa.

Di negeri Indonesia kita ini, hubungan kedua profesional itu rusak. Entah siapa yang mulai main cemooh. Pokoknya  rusak. Di mata seniman, politikus itu jorok, culas, tak patut dijadikan tetangga. Di mata politikus, seniman itu tak bisa dipahami, bahasanya bukan main ruwet. Apalagi jalan pikirannya, kalau yang disebut terakhir ini memang ada. Seniman itu bagaikan dari gugus etnografis lain yang kurang dikenal. Pendek kata, keduanya penghuni kebun binatang yang kandangnya berbeda, baik luas maupun bentuknya.

Tetapi, pada saat tertentu, terjadi pergeseran ganjil di antara mereka. Di satu pihak, parlemen yang merupakan TIM-nya politikus disindir “bersandiwara”, di lain pihak, muncul grup-grup teater yang mengubah panggung bagaikan parlemen, komplit dengan protes-protes sospolnya, lewat retorika atau slogan-slogan mulus. Di satu pihak, keluhan sospol orang parlemen semakin halus dan sopan-santun, bagaikan tuntutan sang menantu kepada mertua. Di lain pihak, seniman-seniman menghardik kerusakan sospol lewat kalimat-kalimat langsung dan nyaring. Hatta seorang tuli pun bisa mendengar. Suatu keajaiban sedang terjadi: parlemen jadi sandiwara, dan sandiwara jadi parlemen.

Di tahun 50-an, Asrul Sani sudah berkeinginan, “teater jadi alat demokrasi yang lain”. Di sana, orang bisa mendengar gerutu, atau protes, atau apa saja yang jadi problem publik, seperti layaknya sebuah parlemen yang normal. Teater merupakan parlemen tanpa fraksi, tanpa komisi, dan tanpa wakil pemerintah, kecuali yang datang menonton. Beda satu-satunya yang paling penting antara keduanya: yang satu pakai karcis, yang lain tidak.

Ada 111 grup teater yang ikut Festival Drama Remaja se-DKI, bulan September tahun lalu (Tempo 5 Januari, 1973). Belum dihitung grup yang non-remaja. Ini sudah bukan main. Gairah Pemerintah Daerah yang memberi bantuan pun termasuk bukan main. Bagaikan Sultan Harun Al-Rasyid yang memberi pundi-pundi dinar kepada para penyair. Termasuk kepada mereka yang secara tepat, namun indah mengeritik kebijaksanaan Sang Sultan.

Absurd. Apabila tidak absurd, teater semakin membeberkan problem sosial lewat penyamaran sesedikit mungkin, lengkap dengan konflik-konfliknya, atau kejahatan-kejahatannya. Disebut atau tidak disebut, problem politik yang mungkin disamarkan di forum parlemen resmi, telah muncul di panggung dengan lebih tegas, lewat kalimat yang kurang formal namun lebih jujur. Taruhlah bukannya menobatkan “politik sebagai panglima”, atau bukannya semacam pengembangan prinsip-prinsip estetika, panggung dari khasanah filsafat dan faham politik tertentu, namun teater hampir sempurna jadi forum buat publik menyaksikan persoalan-persoalan sendiri.

Kalau begitu halnya, parlemen “partikulir” ini jadi banyak juga: pers, teater (bisa juga lenong), dan film. Kecuali kena musibah cabut SIT, pers tak kenal sensor. Parlemen jalanan menurut aturannya dilarang. Film nasibnya paling berabe, karena tangan sensor yang lebar, resmi seratus persen, sewaktu-waktu siap membekuk batang lehernya, sebelum publik sadar apa yang terjadi. Teaterlah yang paling beruntung, bagai margasatwa yang tidak terjamah. Tiada sensor baginya, setidak-tidaknya sensor resmi.

Nyaris lupa: wayang purwa, yang sarat dialog, kelakar dan nyanyi. Kalau bioskop banyaknya cuma 500 di seluruh Indonesaia, tulis Pandam Guritno, di majalah The Indonesian Quarterly terbitan Oktober 1973, dalang dari rupa-rupa kaliber, banyaknya 20 ribu. Kalau mass media modern tak mampu menjembatani masyarakt kota dan desa, para dalang ini sanggup. Namanya saja purwa, namun bisa diisi dengan tingkat kemajuan yang berkembang. Itu barangkali sebabnya, begitu lepas jadi Menteri Penerangan, begitu Haji Boediardjo, terjun memimpin para dalang. Selain harus tahan kantuk, wayang tak kena sensor. Dalang yang ngelantur ganjarannya kesurupan, katanya. Ngacau, mendelik, berbusa.


***
Mahbub Djunaidi; Tempo, Januari 1974

Mengunyah-ngunyah Strategi

Mengunyah-ngunyah Strategi
Bikin Proyek Senen itu susah. Tapi, merusaknya dengan sekali sabet, jauh lebih susah. Pertama, perlu ada ribuan orang. Kedua, ribuan orang yang nekad. Apalagi, nekad itu termasuk barang larangan, yang pelanggarannya memerlukan situasi rohani tertentu. Begitu istimewa soal rusak-merusak ini, sehingga seorang dewa perlu dijelmakan dan dipuja: Sang Siwa.

Begitu pula hal bangun-membangun pada umumnya. Membangun itu sulit. Tapi, membangun untuk kesenangan selapis kecil orang di tengah-tengah tetangganya yang hidupnya bukan main ruwet, jadi lebih sulit. Pertama, perlu cerdik. Kedua, perlu serakah. Jelas, urusan ini mustahil bisa dipegang orang awam.

Agar supaya yang sudah sulit itu tidak jadi percuma, tidak dirusak atau tidak jatuh ke tangan serakah semata, perlu ada yang namanya “strategi”. Strategi pembangunan, begitulah. Rupa-rupa resep dan petuah sudah diperjual-belikan orang, yang satu merasa lebih manjur dari yang lain, tak ubahnya bagaikan aneka jenis obat batuk.

Sosialisme Indonesia, ke situ kita menuju, kata Bung Karno. Awas, bukan Sosialisme ala Rus, bukan RRC, bukan Mesir, bukan Yugo, bukan mana-mana. Mendengar ini, Nyoto menyindir: Kalau soalnya bukan sosialisme ala ini atau ala itu, jangan-jangan memang bukan sosialisme sama sekali.

Membangun ekonomi yang bukan Etatisme dan bukan pula Liberal, kata GBHN. Untuk kesekian kalinya, ekonomi “bukan ini dan bukan itu” tampil lagi dalam urusan strategi. Dan di samping rumusan resmi, tak terhitung pula banyaknya rumusan sumbangan. Mengingat soal bangun-membangun ini bukan beban ekonomi semata. Dr. Mukti Ali mengkhotbahkan perlunya “strategi pembangunan yang pluralistik”. Apa itu? begini: Negara itu harus boleh memilih cara membangun sendiri, yang selaras dengan masyarakat. Jadi bukan harus berarti “westernisasi”. Biarpun pendapat inikeluar di ceramah Goethe Institut beberapa hari sebelum dinobatkan jadi Menteri Agama, tidaklah mengurangi arti pentingnya.

Bah, nonsens semuanya itu, kata Mahbub ul Haq, penasihat senior Bank Dunia. seperti halnya berpaling ke negeri-negeri maju cari bantuan sistem ekonomi campuran Cuma mendatangkan bencana saja. Mendingan berpaling ke dalam, seperti ulah Peking itu, cari pola konsumsi yang lebih sesuai dengan kemiskinannya, lewat panci atau belanga atau sepeda. Tak meniru-niru negeri maju, membuang-buang tenaga. Lantas, bagaimana pula itu strategi kesohor “kemiskinan sirna lewat laju pertumbuhan yang tinggi”? Ini pun nonsens, kata Pakistani itu. Jurang si kaya dan si miskin malahan jadi melebar, bukannya menciut. Satu-satunya strategi yang paling jitu adalah: tanggulangi kemiskinan secara langsung, habis perkara. Tak guna itu sistem ekonomi campuran, sistem “bukan ini dan bukan itu”. Dan tak guna GNP-isme segala macam. Dan berhentilah jadi budak ekonomi “permintaan pasar”, berhubung konsep ini terlalu mencemoohkan orang miskin yang daya belinya lemah.

Nah, apa yang harus dilakukan? Adakah sesuatu yang keliru pada “strategi-pembangunan”? Apa perlu “etos baru” yang diusulkan Goenawan Mohamad, yang kira-kira seperti gaya Ghandi, walau tidak usah persis betul? Yang sederhana, lugu, tak muluk?

Walau jam malam sudah tiada, orang sama bebasnya seperti kalong, dan toko Astra sudah didandani lagi, soal pokok belumlah terpecahkan: bagaimana lebih mengurus orang miskin. Bagaimanapun, ini harus ada yang mengurus. Kalau tidak, bisa jadi urusan.

Tak punya kekuasaan sama bahayanya dengan kebanyakan kekuasaan. Karena itu, pembagian kekuasaan sebenarnya mengurangi risiko yang tidak perlu. Juga pembagian rezeki yang lebih merata, berhubung orang susah gampang naik darah. Ini merepotkan negeri, percayalah.

Sembari melangkah ke sana, patut berbijak-bijak dengan kaum muda. Tak usah berbelit-belit, karena mereka sudah paham. Coba saja dengan kata penyair Rus, Yevgeny Alexandrovich Yevtushenko ini: “Mendustai anak muda itu salah. Soalnya karena anak muda itu sudah mafhum. Soalnya anak muda itu rakyat”.


***
Mahbub Djunaidi; Tempo, 2 Februari 1974.

Sekitar Peranan Mulut

Lidah lebih tajam dari pedang. Karena itu jangan omong sembarangan, bikin luka dan sengsara. Mendingan diam, karena diam itu emas. Sebab, hanya tong kosong yang nyaring bunyinya. Lagi pula diam itu bukan berarti dungu. Tengoklah perawan yang lagi dipinang, diam saja tertunduk-tunduk, memilin-milin ujung rambut, itu artinya dia betul-betul mau.

Ada masa, tidak semua mulut dianggap jelek. Lihat-lihat mulutnya dulu, tidak bisa pukul rata. Mulut siapa yang jelek? ”Perempuan? Bah. Kalau sebelah kakiku sudah di lubang kubur, barangkali baru bisa kupercaya omongan mereka itu, yang tak punya bakat seni ataupun politik”, kata Nietzsche. Untungnya, di negeri kita ini ada bait nyanyian: ”Terang bulan terang di kali, buaya timbul disangka mati. Jangan percaya mulut lelaki, berani sumpah takut mati”. Dengan begitu menjadi tidak jelas lagi, siapa sebetulnya yang lebih lancung.
           
Tapi, ada masa semua orang tak kecuali, lelaki atau perempuan, boleh bicara sepuas hati sampai mulut berbusa. Yang satu lebih keras dari yang lain, seperti lelang ikan. Namanya masa liberal. Hanya orang-orang bisa dan tuli yang mampu terbebas dari keriuhan ini. Kalau sekadar mulut berbusa saja, masa bodohlah. Tapi kalau sebentar-sebentar kabinet terpelanting dari kursinya, tak ubahnya seperti piring-mangkuk, nanti dulu. Orang toh tidak bisa jadi menteri cuma sebentar.
           
Maka ada Kabinet Kerja di bawah PM Djuanda itu, teriring semboyan: ”Sedikit bicara, banyak kerja”. Semua orang yang bermodal mulut semata-mata menyempit lapangannya. Bursa mulut turun, dan keringat naik derajat. Kegaduhan sedikit demi sedikit berkurang, orang makin lama bicara makin pelan, sehingga mau tidak mau coraknya berganti jadi kasak-kusuk. Padahal, ditilik dari sudut kebajikan, omong besar dan kasak-kusuk sama-sama bukan tabiat yang layak dipuji, seperti halnya orang kegemukan atau kekurusasan.
           
Melihat gelagat ini, semboyan ditinjau kembali. Bukannya ”Sedikit bicara banyak kerja”, melainkan ”Banyak bicara banyak kerja”. Akur, kata K.H. Idham Chalid waktu itu. Mengapa? Sebab, bicara saja tanpa kerja itu namanya beo. Bekerja saja tanpa bicara itu namanya maling. Perumpamaan ini membuat para pendengar tertawa terpingkal-pingkal, baik yang merasa dirinya memang beo, atau yang merasa dirinya memang maling.
        
Di zaman pembangunan seperti sekarang ini, sudah barang tentu yang pertama-tama harus dilakukan orang adalah kerja. Kalau semata-mata kerja saja, tanpa bicara sepatah pun, apa ini artinya seperti maling? Oh tidak, tidak maling. Walau sekarang bicara bukan pekerjaan terhormat, bukan berarti orang tidak diperkenankan bicara. Cuma namanya yang ganti, bukan bicara melainkan berdialog, berkomunikasi, berseminar, bersimposium, berlokakarya, berdiskusi, dan sarasehan. Kesemua ini memang via mulut juga, tapi lain sedikitlah. Bahkan Parlemen, yang menurut riwatnya justru tempat bicara, tidaklah gemar lagi membuka mulut selebar-lebarnya, seperti mbah guru mereka Montesquieu yang meraung-raung di mimbar bagaikan keledai, melainkan memilih kecermatan di atas segala-galanya.
           
Kalau toh perlu bicara, harap dengan data, seperti nona Spanyol dengan kipas dan sinyo Prancis dengan bunga. Orang zaman sekarang suka angka-angka, makin banyak makin bagus. Pimpinan yang baik adalah pimpinan yang hafal angka-angka di luar kepala, angka apa saja dan kapan saja. Misalnya, orang harus bicara seperti ini: Di tahun 2000, pendapatan per kapita per tahun orang Indonesia yang sekarang Rp 37.350,00 bisa naik jadi Rp 172.750,00. Di tahun 2010 naik jadi 15.000 juta. Cucu dari orang yang hidup tahun itu bisa menyaksikan orang di dunia 60.000 juta. Dan d tahun 2625, tiap manusia cuma kebagian tempat berdiri sekaki persegi, tak ubanya seperti kita naik bus kota sekarang. Itu kata Robert S. McNamara. Itu kalau migrasi tidak digalakkan, atau KB macet, atau angka kematian tidak dipertinggi, misalnya lewat perang agar mereka saling tikam sesamanya, atau beri fasilitas orang yang bermaksud bunuh diri, bagaikan fasilitas Dinas Pariwisata buat kaum turis.


***
Mahbub Djunaidi; Majalah Tempo, 5 April 1975

Bulan Puasa Anak Anak Sekolah

Bulan Puasa Anak Anak Sekolah
Anak-anak, kasih unjuk lapor kepada orang tuamu. Bagi yang naik kelas, boleh bersenang hati. Bagi yang tidak, boleh murung, asal tidak banyak. Ini merupakan pentung ke kepalamu supaya lain kali belajar lebih baik. sekarang kamu boleh pulang, sampai ketemu habis lebaran,” kata menir van Daalen seraya mengusap batang hidupnya, suatu kebiasaan sebagian besar bangsa Belanda yang hidup di bawah permukaan laut.

Beresoknya, beduk puasa berdentam-dentam. Lepas sahur, anak-anak senewen itu masuk keluar kampung menabuh kaleng rombeng, kemudian duduk berjuntai di batang belimbing hingga lohor, sesudah itu tidur telungkup menekan perut keras-keras ke ubin langgar hingga hampir maghrib. Jika saat berbuka puasa tiba, mereka nyaris menelan seluruh isi bumi. Tapi ini tidak berlangsung lama, sembahyang tarawih shubuh, yang mereka lakukan sambil sekali dua menyikut rusuk temannya.

Dalam hubungan ini C. Snouk Hurgronje benar : pokoknya jangan sentuh agama Islam, bisa berabe. Toh kultur Jawa masih kuat, mampu memproduksi penduduk paling taat kepada atasannya seluruh dunia. jangan main paksa - seperti disaksikan Van der Plas di Madura tahun 1919 - murid sekolah bolos disuruh bersila di pendapa asisten Wedana seraya dicoreti punggungnya dengan tulisan “Je Maintiendrai”. Kapan pun juga main paksa tidak bisa menyelesaikan soal.

Dan dalam hubungan sentuh agama Islam ini, kolonialisme Belanda pada umumnya cukup bijak. Buat apa bikin perkara dengan mereka kalau maksud sedalam-dalamnya adalah soal rezeki, urusan perdagangan, een mercantile betrekking? Seyogianya menghormati pesantren-pesantren di Jawa pada umumnya terletak di tengah lautan kebuh tebu agar supaya santri Buntet di Cirebon atau Tebuireng di Jombang tidak mengobrak-abrik pabrik sambil menggulung kain sarung hingga lutut. Gula, yang merupakan gabus tempat kerajaan Belanda mengapung, tidak boleh terancam.

Zaman berganti, dan kini giliran Kawasaki-san berdiri di depan kelas. “Anak-anak, kasih unjuk rapor kepada orang tuamu. Bagi yang naik kelas, boleh bersenang hati. Bagi yang tidak, boleh murung, asal jangan banyak-banyak. Ini merupakan pentung ke kepalamu supaya lain kali belajar lebih baik. Sekarang kamu boleh pulang, sampai ketemu habis lebaran.” Sesudah menyanyikan lagu kebangsaan Kimigayo dan Seikerei itu berhamburan ke luar kelas bagai kelereng tumpah dari dosnya. Seperti biasa, esok hari beduk puasa berdentam-dentam, dan seperti biasa mereka bergolek-golek di lantai langgar. Satu dua juga yang diam-diam menggigit mangga muda di belakang kakus.

Dalam hubungan ini, H.J. Benda dalam ‘The Cresent and The Rising Sun’ benar: biarpun Bupati Bandung Wiranatakusumah menyimpan motif tersendiri menggalakkan Baitul Mal di beberapa keresidenan Jawa Barat, pemerintah Dai Nippon mendiamkan saja demi mencegah kortsluiting dengan Islam. Dan biarpun pemuka Islam menyimpan keinginan sendiri menghadapi latihan Hizbullah di Lemahabang, Jepara pura-pura bersungguh hati demi “Asia Timur Raya”.

Di alam merdeka tentu keadaan berbeda. Anak-anak sekolah tambah jangkung, lebar dada dan tebal pantatnya. Ini berkat gizi cukup dan kemakmuran yang makin merata, terutama berkat kegesitan orang tua masing-masing. Jangan dibilang lagi tingkat kecerdasan mereka yang semakin meninggi, sebagian disebabkan karena orang sekarang mempunyai cara mengukurnya, dengan bantuan mesin yang tidak bisa dibantah. Akibat mereka yang ingin sekolah jauh lebih banyak jumlahnya dari bangku yang tersedia, maka yang berhasil duduk dengan sendirinya merupakan makhluk pilihan, bagai ayam Bangkok di antara ayam kampung.

Betapa istimewanya, mereka punya guru guru baik lelaki maupun perempuan. Menjelang hari puasa, pendidik itu tegak berdiri di depan kelas.”Anak-anak, sesuai panggilan zaman, kamu dpersiapkan untuk berjalan-jalan dari planet ke planet, atau menyuruk jauh ke dalam perut bumi. Karena itu, kamu musti belajar keras, tak terkecuali di bulan puasa. Satu hari terlewat berarti rugi dua puluh lima tahun.”


***
Mahbub Djunaidi; Tempo, 26 Mei 1979

Dijual, Patung Negarawan

Dijual, Patung Negarawan
Sebuah toserba bertingkat 13 merupakan toserba terlengkap di dunia, membuat orang tercengang seperti menatap menara Pisa. Apa saja yang diperlukan bisa dibeli dengan kontan dan dengan uang pas. Konsumen buta disediakan penuntun. Konsumen tuli disediakan electronic hearing aid. Konsumen lumpuh disediakan kursi roda. Konsumen maniak disediakan psikiater supaya jangan ngamuk dan bikin keresahan. Konsumen putus sekolah atau pun yang tak lulus ujian diantar hansip.
            Tingkat 1 menjajakan barang-barang kuno, magis, sakti, ajaib dan berpamor. Rupa-rupa pot keramik serta kendi tanah liat yang saking tuanya hingga tak jelas kapan tahun asalnya. Rupa-rupa keris mulai yang tanpa lekuk menyerupai batang pensil, hingga yang berlekuk sepuluh. Bongkahan batu dari pelbagai ukuran yang bagi orang dungu dikiranya penimbun lubang jalanan. Perlbagai tongkat kayu, ada yang gemuk ada yang ramping, yang salah satu di antaranya konon pernah digenggam tangan Gubernur Jenderal kolonial Belanda, Dirk Fock, yang dihantamkan ke batok kepala seorang petani tebu sehingga yang terakhir ini pulang ke alam baka. Ada pelbagai macam jimat yang maaf tak bisa dipaparkan di sini karena bisa tersambar petir.
            Tingkat 2 hingga 4 menjajakan jualan yang bersangkutan dengan peralatan kecantikan. Ada gaun yang dari kejauhan tampak seperti karung terigu. Ada untaian kalung yang terdiri dari siput berasal dari tiga samudera. Adea topi yang biasa dipakai oleh gelandangan. Pelbagai macam gincu yang pemakaiannya terarah sesuai target, dan harus mengindahkan ramalan cuaca serta kelestarian lingkungan. Perabot khusus urusan mata yang sanggup memancarkan macam-macam kesan: sungguh-sungguh, “ogah-ogahan”, berkobar-kobar, tidak sabaran, fundamentalis, tertindih utang atau mampu memenangkan tender apa saja. Kesemuanya ini hanya tergantung dari warna yang dipilih dan cara memoles.
            Tingkat 5 hingga 8 khusus perabot dari keperluan dapur hingga kamar mandi. Ada kompor gas yang bisa dimatihidupkan dari jarak jauh, misalnya sang Nyonya sedng repot di kakus. Ada panci yang mampu merekam pembnicaraan sang Suami di mana pun dia berada. Ada penyimpanan beras model mutakhir yang mampu memisahkan mana beras lokal, beras impor, beras dropping dan sekaligus informasi komputer bagaimana beras itu bisa masuk rumah. Akan halnya perangkat kamar mandi, tersedia video anti air, kakus yang bisa disetel naik atau turun, atau berputar seperti kursi direktur. Demi pemerataan, akkus pun mesti kebagian peningkatan. Dan demi penghematan energi yang semakin merosot, pemanasan air cukup dilakukan sambil membuka genteng dan hanya dengan cara menekan tombol. Orang akan merasa seperti mandi di kubangan.
            Tingkat 9 dan 10 khusus permadani, karpet, tirai, taplak, serbet dan lampu-lampu. Permadani dari seluruh penjuru dunia tersedia belaka, kecuali yang terbaik dari Persia yang untuk waktu yang belum ditentukan distop dulu perajutannya berhubung penduduknya disibukkan dengan perlbagai rupa petunjuk Khomeini yang musykil-musykil. Karpet dan lampu paling memikat pembeli sebab kedua barang itu merupakan ukuran martabat seseorang, makin lebar karpetnya makin tinggi derajatnya, seperti jumlah ragam buku di rak orang pada abad ke 19. Begitu pula gordin yang mesti sepadan dengan warna kebaya, begitu pula jumlah susunan kristal pada lampu. Cukup dengan melihat lampu, tahulah orang dari eselon berapa si empunya berasal, dan sejauh mana relasinya dengan pejabat terjalin. Dunia semakin matematis dan praktis.
            Tingkat 11 dan 12 berjejalan rupa-rupa makanan kalengan, juga pembunuh semua jenis serangga. Kemudian makanan bayi. Makanan masa pertumbuhan. Makanan orang dewasa. Makanan penderita jantung koroner. Makanan non-lemak,non-gula. Makanan mengandung garam yodium. Makanan untuk kakek-kakek dan nenek-nenek. Makanan anjing ras. Makanan kucing impor. Makanan burung kenari. Makanan bagi mereka yang dihinggapi rasa was-was, resah, frustrasi dan ketakutan dalam segala bentuknya. Buat orang gila sungguhan tidak ada aturan tertentu, kecuali anjuran agar sejauh mungkin jangan samapai makan dengan kaleng-kalengnya.
            Tingkat 13 menjual patung-patung lilin orang masyhur. Ada patung jenderal yang memenangkan serentetan pertempuran atau yang tak pernah bertempur sama sekali. Ada geolog. Ada ahli hukum. Ada konsultan. Ada teknokrat. Ada pengusaha kecil akhirnya besar. Ada pengusaha besar akhirnya jadi kecil. Ada diplomat ulung yang senantiasa dalam keadaan senyum. Ada teladan KB karena tak henti-hentinya menelan pil. Ada gubernur yang peroleh laba dari kredit Bimasnya. Ada masinis percontohan yang bisa masukkan kereta api di stasiun tujuan sebelum waktunya. Ada politisi jempol yang mampu pusatkan seluruh perhatian bagaimana cara mendapatkan kursi di pemilu berikutnya, tak ada pikiran lain dari itu. Ada negarawan yang senantiasa merenung bagaimana nasib bangsa seratus tahun yang akan datang. Patung terakhir ini paling laris.


***
Mahbub Djunaidi; Majalah Tempo, 4 Juli 1981

Kenapa Tidak

Kenapa Tidak
Sarimin dan Khou Kek Beng berasal dari Jepara. Ketika masih sama-sama kere, mereka akur bagai sepasang kaztak dari satu liang. Hari demi hari, terasa keganjilan. Sarimin hidupnya terengah-engah, Khou Kek Beng sebaliknya. Sarimin masih bergulat di kaki lima, Khou Kek Beng sudah punya toserba. Sarimin gagal peroleh kredit KIK walau sudah menyembah-nyembah hingga jidatnya terantuk tanah, Khou Kek Beng peroleh kredit besar hanya dengan kerdipan mata. Hidup Khou seperti bertengger di awan, hidup Sarimin tetap dalam lubang yang dulu.

Mulanya Sarimin menganggap ini semata-mata suratan nasib, karena itu tidak perlu jadi pikiran besar. Tapi karena jarak keduanya makin melebar, Sarimin merasa ada yang tidak beres. Ini pasti ada manipulasi garis-garis yang sudah ditentukan dari langit. Sedikitnya, ada penyimpangan sistem. Makanya ia mulai membenci Khou, kalau bisa malah kepingin menyiramnya dengan air comberan. Keakuran massa Jepara berubah menjadi kebencian etis. Sarimin suka berdiri di muka kaca, memerikasa warna kulit, meneliti lebar mata, membanding-banding letak geraham, bahkan menghitung-hitung jumlah bulu. Ya, memang ada beda dia dengan Khou, memang ada beda kaki lima dengan toserba.

Khou Kek Beng merasakan betul perubahan itu. Baiklah Sarimin, katanya pada suatu hari. Mulai nanti sore namaku kuganti menjadi Paijo; aku mau kawin sama Inem, gadis centil teman naik kebo tempo hari, asal saja kamu stop perbuatan berdiri di muka cermin, stop menganggapku keturunan tuyul, stop membenciku seakan aku ini seekor biawak. Hanya saja, mengharap agar aku kembali jadi kere rasanya sulit. Kamu kira pekerjaan gampang buat seorang pengusaha toserba berubah jadi kere dalam semalam? Ini memerlukan seminar berbulan-bulan. Sarimin tidak ambil pusing, dia tetap mengumpat hingga timbangan badannya turun dan gusinya bengkak. Dia ingin gantung diri, tapi tidak punya keberanian.

Kisah dua hamba Allah ini sampai ke kuping Yayasan Prasetya Mulya yang gedungnya baru saja diresmikan di Jakarta, dan pada waktu yang hampir berbarangan sampai pula ke telinga Dr. Mubyarto di Universitas Gadjah Mada sana. Keduanya merenung semalam suntuk, dan keduanya sampai pada kesimpulan: masalahnya bukan terletak pada beda etnis; masalahnya terletak pada kesenjangan sosial ekonomis.

Tak ada itu benci rasial; yang ada kecemburuan akibat tingkat hidup berbeda. Percuma saja Sarimin berdiri di muka kaca periksa beda lebar mata dan warna kulit dan jumlah bulu – karena selain tidak memecahkan soal, juga kedengarannya primitif. Percuma saja Khou Kek Beng ganti nama dan persunting Inem baik penumpak kebo ataupun macan. Khou Kek Beng atau Paijo, Inem atau non Inem, sama saja dilihat dari arah bintang.

Jadi bagaimana? Yayasan Prasetya Mulya pimpinan Sudono Salim anggap perlu tingkatan kualitas manusia lewat didikan manajemen, karena jangan-jangan kesenjangan sosial ekonomi itu disebabkan oleh mutu keterampilan tak merata – hingga seorang Sarimin tetap melata di bumi sedangkan Khou Kek Beng sanggup uncang-uncang kaki di awan. Beda kualitas memisahkan keduanya. Dan Dr. Mubyarto anggap kesenjangan itu disebabkan oleh sistem yang tidak kena, karena itu jalan ekonomi mesti diluruskan di atas rel Pancasila.

Memang betul Psikolog Arief Budiman anggap gagasan Mubyarto tak lain impian yang bakal kempes di tengah jalan; dan memang betul Ekonom Kwik Kian Gie tidak paham apa sebetulnya yang dimaksudkan Mubyarto. Bagaimana kalau Yayasan Prasetya Mulya Sudono Salim ambil prakarsa mendiskusikan Ekonomi Pancasila­-nya Mubyarto dalam satu forum nasional? Siapa tahu Sarimin dan Khou Kek Beng bisa kembali akrab seperti dulu kala.


***
Mahbub Djunaidi; Tempo, 5 Januari 1985

Afrika

Afrika
Hakikatnya sih perbuatan mesum. Tapi karena orang Inggris bukan orang sembarangan, melainkan gentleman, maka dia lebih suka menyebutnya white’s man burden. Orang Prancis yang lebih puitis menyebutnya mission civilatrice, dan orang Jerman penyebaran kultur. Sedangkan orang Italia, yang biasanya suka hingar-bingar, kali ini tak menyuguhkan istilah apa-apa; Cuma mengumbar altruisme agresinya dengan jalan merampas Somalia, menggaet Tripoli, menginjak-injak Ethiopia dan Eritrea, serta melahap apa saja yang tampak di atas buminya.

Buat orang Afrika sendiri macam-macam sebutan itu tak banyak beda satu sama lain. Toh maksudnya serupa: Membagi-bagi kampung halaman mereka seperti memotong kue talam, mengangkut kekayaan benua raksasa itu ke Eropa, memecut punggung penduduk hingga tak kuasa menjerit. Pokoknya kolonialisme dalam makna yang paling tulen. Sivilisasi ataupun kultur yang ditawarkan Barat kepada Afrika tak lain dari perbudakan sistematis, lewat dukungan bank dan lembaga-lembaga penyelidikan ilmiah. Misalnya, tak lain dari sejarawan Honataux yang menampilkan rumus ajaib bahwa Madagaskar secara historis menjadi bagian dari Prancis, sehingga Ratu Hova tiba-tiba menjumpai negerinya yang 1.000 mil lebih luas dari negeri Prancis sendiri menjadi daerah lindungan pemerintah Paris.

Belenggu yang melilit leher ini mesti dipatahkan, cepat atau lambat. Hutan belantara supaya bisa menyanyi lagi lewat gesekan daun dan dahan. “Masalah utama abad XX adalah bagaimana corak hubungan kulit berwarna dengan kulit putih, baik di Asia, Afrika, maupun di pulau-pulau sekitarnya,” kata William du Bois di kongres pertama gerakan Pan Afrika tahun 1900 di London. Kepalan tinju segera diacungkan oleh anak-anak jajahan yang bertubuh gempal dan bergigi seputih bulu belibis: Kwame Nkrumah, Nnandi Azikiwe, Isaka Seme, Jomo Kenyatta, Tom Mboya, Yulius Nyerere, Modeiba Keita, Sekou Toure. Campur aduk antara rasa kesadaran ras blackism, paham nasionalisme modern, semboyan “Afrika untuk bangsa Afrika”, bermuarakan ke suatu tekad jua adanya: kemerdekaan.

Penyair Aime Cesaire, yang merasa kikuk dengan politik, dan memilih Paris sebagai markas besar perjuangan kulturalnya melawan kolonialisme, segera berkencan dengan Petar Guberina dari Yugoslavia dan mengajaknya berleha-leha di panta Dalmatian. Dan lewat kumpulan syairnya Cahier d’Un Retour Au Pays Natale, yang tak lebih dari 70 halaman, bermulalah suatu gerakan sastra baru yang bernafaskan perlawanan aliran negritude yang penuh ratapan derita dan sumpah serapahh. Akibat berikutnya sudah bisa diduga: Peradaban Eropa yang katanya menjulang tinggi itu di mata mereka amatlah nista, tak lebih dari seonggok jerami.

Mula-mula mereka membunuh bapakku, tulis Penyair Diop, semata-mata karena bapakku punya harga diri. Setelah itu mereka perkosa bundaku semata-mata karena bundaku cantik jelita. Kemudian orang kulit putih yang penuh bulu itu nmenjemur abangku hingga kering kerontang di bawah terik mentari khatulistiwa, semata-mata karena abangku gagah perkasa, tangannya merah oleh aliran darah yang hitam. Dan sesudah beres semua itu, menjeritlah mereka persis ke lubang kupingku: Hai bocah gudik, ambil kursi dan serbet serta segelas bir kemari!

Dengus napas Politikus Kwame Nkrumah dari Ghana ataupun tulisan penuh geram Penyair Leopold Senghor dari Senegal, semua mendapat tanggapan semestinya di Konferensi Asia-Afrika, Bandung, 1955. Kolonialisme mesti didorong naik ke tiang gantungan hari itu juga. Di Priangan tambur ditabuh oleh tangan-tangan yang dengan sengaja ditugasi membawa misi sejarah. Satu demi satu negeri-negeri Afrika peroleh kemerdekaan, bukan karena belas kasihan, melainkan berkat terjangan tak kenal ampun. Mulai dari pantai utara yang terbasuh riak Laut Tengah, padang pasir Nubia yang terpanggang sepanjang tahun, padang rumput yang membentang mulai Cape Verde hingga tepi-tepi Sungai Nil, daerah curahan hujan khatulistiwa yang berhutan lebat sorga para binatang, hingga belahan selatan tempat dataran tinggi gandeng-bergandeng dengan prairie – bendera-bendera nasional berkibar di tiang-tiangnya.

Hanya tiga tahun sesudah itu berlangsung Konferensi Negara-negara Afrika Merdeka di Accra tahun 1958, di Addis Ababa tahun 1960. Para hadirin menjunjung sepuluh jari Piagam PBB, Deklarasi Hak-hak Asasi Manusia, dan Deklarasi Bandung. Penyair Leopold Senghor sendiri sudah jadi presiden Senegal. Ia masih memuja Afrika seperti sediakala. “Gadismu nan hitam menusuk hati, bagai sang petir menusuk rajawali.” Dan tak lama lagi bulan April tiba. Sudah 30 tahun umur Konferensi Asia-Afrika. Banyak mereka yang sudah tiada, tapi semangat Bandung terasa sepanjang masa, seperti udara.


***
Mahbub Djunaidi; Tempo, 23 Maret 1985

Kota

Kota
SEMUA makhluk hidup mencintai kotanya. Tapi saya melebihi semuanya itu. Rasanya saya bersedia berkelahi hingga mati kalau saja ada yang meremehkannya. Bukan saja kotanya yang kusenangi, melainkan administratornya. Mereka seakan-akan diturunkan dari langit khusus untuk merawat kota, tak ada yang lain dari kota. Mereka siap berbuat apa saja untuk kepentingan kota, bahkan tanpa digaji sekalipun. Hanya karena menolak gaji bisa diartikan menghina negara, dengan berat hati gaji itu diterima juga. Pegangan mereka satu-satunya hanyalah rasa ikhlas itu.
“Apakah cukup dengan ikhlas itu?” tanya saya.
“Lebih dari cukup. Bila kita ikhlas, kita tak pernah merasa lapar. Bahkan tak memerlukan kendaraan bermotor atau kulkas,” jawab mereka.
“Masya Allah,” sambut saya. Sungguh mengharukan.
Ibarat pohon tinggi mesti siap kena pukul angin, begitu pula para administrator kotaku itu. Rupa-rupa fitnah dan iri dihamburkan ke muka mereka, yang kalau saja tidak kuat-kuat iman, bisa membikin mereka semaput. Misalnya, fitnah seakan-akan mereka menuntut uang pelicin jika mau urusan lekas beres. Misalnya, fitnah seakan-akan kerja mereka tak lain dari melancarkan rupa-rupa pungutan dan pajak, tanpa sedikit pun memperhatikan pelayanan publik. Saking banyaknya pungutan pajak ini dan pajak itu, sampai-sampai ada orang jail yang menyindir: mengapa tidak ditambah saja pajak hujan, supaya komplet? Suara-suara ini mereka masukkan ke kuping kanan untuk dikeluarkan di kuping kiri, dan mereka terus bekerja keras sebagaimana mestinya. Atau seperti kata Ilya Eehrenburg, mereka bekerja seperti bukan manusia.

BUKAN manusia? Ya. Belum lagi penduduk bangkit dari tempat tidurnya, petugas-petugas kota sudah sibuk menyapu jalan, biji sawi pun tiada yang tercecer, sehingga lorong kota gemerlapan seperti halnya jidat kita. Mereka periksa lubang-lubang yang sekiranya ada terdapat, buru-buru menambalnya, khawatir kalau-kalau ada warganya bisa tersandung. Mereka periksa gorong-gorong kalau-kalau tersumbat, walhasil mesti betul-betul bersih, lebih bersih (kalau bisa) dari lubang hidung warga kota sendiri. Mereka tanam tiap jengkal tanah pinggir jalan dengan batang-batang pohon hias, begitu pula menyediakan bibit-bibit yang setiap saat bisa diminta penduduk tanpa bayar sepeser pun. Mengapa pula mesti bayar? Bukankah pemerintah kota itu bukan tukang tanaman?
Lebih dari semuanya itu, sikap dan selera mutakhirnya yang saya anggap luar biasa. Ketika sepuluh tahun yang lalu musim klab malam, kota saya amatlah responsif. Di hampir tiap gang terdapat tempat-tempat itu, yang ditandai dengan aneka warna lampu yang tak henti-hentinya berkedap-kedip. Memang ada mulut iseng yang mengatakan kota saya kota maksiat, tapi orang-orang macam ini hanyalah mampu melihat kulit tanpa memahami isinya. Mereka tak mampu berpikir, betapa kota perlu hiburan, seperti halnya ia perlu makan serta minum. Mereka tak tahu, interaksi positif telah terjadi: penduduk senang dan kotamadya pun peroleh uang. Perkara akibat sampingan, orang tidur melulu pun punya akibat sampingan juga, bukan? Sesudah klab malam kehabisa musim, timbul di mana-mana panti pijat, baik yang tradisional maupun yang modern. Sepintas lalu memang bisa timbulkan kesan seakan-akan penduduk kota pegal serta linu sekujur tubuhnya dan memerlukan perawatan segera sesudah itu. Padahal, masalahnya tidaklah sesederhana itu. Buat orang yang sudah mendalami duduk perkara, panti pijat tidak selamanya mesti dikaitkan dengan pegal atau linu. Ada faktor-faktor lain yang lebih luhur dari itu.
Sesudah itu? Sesudah itu rumah bola sodok. Di hampir tiap tikungan jalan tersedia belaka tempat itu. bila di zaman kolonial tempat begituan cuma tersedia khusus untuk opsir-opsir dan tuan tanah perkebunan yang kebetulan turun ke kota, sesudah kemerdekaan ini setiap orang boleh saja mendorong-dorong bola hingga masuk lubang sesudah saling saling bersentuhan sesamanya. Bila tempo dulu permainan umumnya orang pensiunan, sekarang tidaklah demikian halnya. Sekarang, lelaki tua dan muda bisa membungkuk dan memicing-micingkan mata seberapa lama mereka suka. Yang belum kelihatan menggemari permainan ini hanyalah kaum wanita. Apa sebabnya, tidaklah jelas.

SESUDAH itu? Sesudah itu adalah proyek perkantoran. Di mana-mana dibangun orang gedung-gedung perkantoran, sehingga kota saya seakan-akan isinya cuma kantor melulu. Memang kadang-kadang ada juga pertanyaan, apakah memang urusan sudah begitu banyaknya sehingga diperlukan kantor-kantor sebanyak itu? Pertanyaan semacam ini pastilah datang dari mulut mereka yang tak memahami betapa modernisasi itu sejalan dengan mobilitas administrasi surat menyurat, betapa kemajuan dan dinamika haruslah diukur dari jumlah kantor, sebab di hutan tidak ada peradaban.
Sesudah itu? Sesudah itu kota saya tak henti-hentinya membangun proyek toko, baik toko konvensional maupun toko swalayan, di mana pembeli meraih sendiri barang-barang seakan di rumah oomnya. Begitu banyaknya toko, seakan lebih banyak toko dari rumah penduduk. Lagi-lagi orang dangkal pikiran sering bertanya sesamanya, kalau toko dibangun banyak-banyak, pernahkan dipikirkan, apakah daya beli orang memang sanggup mengimbanginya? Ah, itu soal lain sama sekali. Itu bukan urusan kotamadya sama sekali. Sungguh benar, Administrator kota hanya berkewajiban membangun toko, perkara daya beli menjadi urusan warga sendiri.
Dan sesudah itu? tentu saja menggalakkan balai-balai kursus komputer. Di mana-mana tampak. Di mana-mana tercium wangi kecanggihan. Komputer, lambang supremasi. Tanpanya dunia ini bakal berhenti berputar.
“Di Amerika, karena sudah kebanyakan orang terpikir menganjurkan KB untuk menghambat komputer. Bagaimana?” tanya saya.
“Gila itu.” jawab administrator kota dengan tegas.

***
Mahbub Djunaidi; Asal-usul - Kompas, 23 November 1986